"Apa hidup matimu ada hubungannya denganku?""Kak Mira, kenapa kamu begitu nggak berperasaan?""Aku memang nggak berperasaan, lantas kenapa?"Lidya meletakkan gelas anggurnya, menundukkan kepala, dan mulai terisak."Sayang, memandang dari wajahku, tolong beri dia kesempatan," kata Irwan sambil mengerutkan kening."Irwan, aku nggak suka omong kosong atau bertele-tele. Seperti yang aku bilang kemarin, perusahaan bisa memilih antara aku dengan dia. Pilihan ada di tanganmu.""Mira, dia sudah minta maaf padamu. Apa lagi yang kamu inginkan?" bentak Irwan dengan geram.Mira tersenyum kecut. "Jadi, kamu membentakku karena dia?""Aku ... aku sudah berjanji pada mentorku ....""Berhenti menyebut mentormu lagi. Aku sudah mengunjunginya beberapa hari yang lalu. Dia bilang dia nggak pernah menyuruhmu untuk menjaga Lidya. Sebaliknya, dia merasa Lidya kurang cakap dan nggak bisa diandalkan. Dia sama sekali nggak cocok di perusahaan kita!"Irwan terdiam. "Kamu begitu nggak percaya padaku? Kamu bahkan
Read More