Untuk beberapa detik, tidak ada yang bergerak. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar terlalu jelas. Clarisa masih menatap foto di ponselnya. Tangannya gemetar tipis, tapi ia berusaha terlihat tenang.Arkan melangkah mendekat. “Tunjukkan.”Clarisa menyerahkan ponselnya tanpa kata.Raka ikut melihat dari sisi lain. Foto itu jelas. Terlalu jelas untuk disebut kebetulan. Pamannya—Adrian Wijaya—duduk santai, jas abu-abu khasnya. Di depannya, Leonard tersenyum tipis, gelas anggur terangkat setengah.Bukan pertemuan tidak sengaja ataupun diskusi formal. Itu hanya makan malam.“Dua hari lalu,” gumam Arkan.Pak Surya menutup mata sesaat.“Aku khawatir tentang dia sejak lama.”Clarisa menoleh cepat. “Kenapa Anda tidak pernah bilang?”“Karena itu hanya kecurigaan,” jawabnya pelan. “Dan aku tidak ingin menuduh keluarga istrimu tanpa bukti.”
Read more