Seeyana menutup pintu mobil dengan hati-hati, menatap ke sekeliling jalan yang sepi. Setiap suara deru kendaraan jauh, gemericik ranting pohon yang tertiup angin terasa lebih keras dari biasanya. Nalurinya berteriak, memberi tahu bahwa malam ini bukan sekadar malam biasa.Arlan duduk di sampingnya, tangan tetap menggenggam setir dengan tegang, matanya sesekali melirik ke spion. “Mereka pasti mengikuti,” katanya, tanpa perlu menatap Seeyana. Suaranya berat, penuh kepastian.Seeyana menghela napas, mencoba menenangkan diri, tapi jantungnya berdetak cepat. Ia menundukkan kepala, memeluk tasnya. “Kita harus kemana dulu?” tanyanya pelan.Arlan menggeser mobil pelan, menyalakan lampu jauh, dan menatap jalan yang gelap. “Ke tempat aman. Ada orang yang bisa kita percayai… tapi kita harus cepat. Sekalipun mereka tidak tahu persis, mereka sudah bergerak lebih cepat dari yang kita duga.”Setiap belokan, setiap lampu jalan yang menyala samar di malam hari mem
Last Updated : 2026-03-11 Read more