Pintu ruang kerja terbuka tiba-tiba dengan bunyi creak yang tajam. Seeyana menoleh, napasnya tercekat. Arlan berdiri di sampingnya, wajahnya tegang, mata tajam mengamati setiap gerakan di lorong.“Siapa itu?” suara Seeyana nyaris berbisik, tapi penuh ketegangan.Seorang pria tinggi dengan jaket hitam berdiri di ambang pintu, cahaya lampu dari koridor membuat wajahnya setengah tersembunyi. “Kalian pikir bisa bersembunyi selamanya?” ucapnya, nada dingin, hampir seperti bisikan maut.Seeyana menatapnya, jantungnya berdegup cepat. Ada sesuatu yang familiar dari postur pria itu, tapi ia tak bisa menempatkan ingatannya. Naluri mengatakan ia bukan sekadar pengganggu acak.Arlan melangkah maju, badan tegap di depan Seeyana. “Kami tidak ingin masalah. Apa yang kau inginkan?”Pria itu tersenyum tipis, tapi matanya tetap dingin. “Aku ingin kalian berhenti bersembunyi dan melihat apa yang selama ini kalian abaikan.”Seeyana merasakan hawa tegang mengitari ruangan. Ia ingin bergerak, lari, atau se
Last Updated : 2026-03-01 Read more