Jam digital di layar ruang kerja menunjukkan 52:13.Waktu terus berjalan.Clarisa berdiri di depan meja kerja Arkan, membuka laci rahasia yang selama ini hanya ia lihat sekali. Tangannya bergerak cepat, tapi pikirannya jauh lebih cepat.“Kita tidak tahu lokasi asli bibi,” katanya tanpa menoleh. “Tapi kita tahu pola mereka.”Arkan berdiri di belakangnya, memantau layar tablet yang menampilkan pergerakan timnya. “Mereka ingin aku datang sendiri. Itu berarti sandera utama bukan direktur itu.”“Direktur hanya distraksi,” balas Clarisa. “Emosi kita diarahkan ke dua titik. Gudang pelabuhan dan rumah.”Arkan mengangguk tipis.“Kalau aku Raka,” lanjut Clarisa pelan, “aku akan memastikan kita memilih yang salah.”Sunyi sesaat.Lalu Arkan bertanya, “Menurutmu mana yang salah?”Clarisa menutup laci, menatapnya.“Pelabuhan.”Arkan terdiam.“Kenapa?”“Karena terlalu jelas
Last Updated : 2026-03-13 Read more