Zelda menarik napas pelan. Ada denyut kecil di dadanya, refleks lama yang ingin mundur satu langkah, menghindar. Tapi suara Zara tadi pagi terlintas begitu jelas di kepalanya. Jangan takut. Ia mengangkat wajahnya kembali. Bahunya yang sempat menegang kini diturunkan perlahan, seolah ia sedang mengingat cara berdiri yang benar. “Iya,” jawab Zelda akhirnya, suaranya tenang, nyaris datar. “Dari pacar.” Untuk pertama kalinya sejak duduk di hadapannya, Ariana tampak sedikit terkejut. “Oh ….” Nada itu keluar terlalu singkat, nyaris lolos begitu saja. Senyum tipis yang tadi bertahan di sudut bibirnya meredup sepersekian detik. Matanya bergerak cepat, seperti seseorang yang sedang menimbang ulang langkah berikutnya. Zelda menangkap keraguan itu. Jantungnya berdetak lebih cepat, telapak tangannya terasa dingin, tapi ia tidak mundur. Justru kali ini, ia yang bergerak lebih dulu. “Ada apa?” Ariana mendongak. Zelda menyambung, suaranya tetap terkontrol, meski ada nada ujung yang
Terakhir Diperbarui : 2026-02-07 Baca selengkapnya