Pagi itu di rumah Jati.“Bangun, Putri Tidur.”Gandes mengerang. Selimut ditarik sampai Adagu. “Jati, aku baru merem!”“Tuh, kalau marah, keluar panggilan lamanya." Jati mencium kening Gandes. "Sudah pagi, putri. Matahari cari kamu,” sahut Jati sambil mencium bahu istrinya.“Cari sendiri,” balas Gandes ketus. Tangan kecilnya menyibak, memukul Jati. “Bukannya kamu yang ngajak aku setelah Subuh. Sekarang aku yang kena imbas.”Jati tertawa lepas. “Kok galak.”“Coba rasakan pinggangku,” gerutu Gandes. “Kamu bilang sebentar. Nyatanya lama.”Jati menyelipkan tangan ke balik selimut, merengkuh dari belakang. “Maaf. Tapi kamu hamil begini malah bikin aku nagih.”“Jangan berani bilang begitu,” Gandes menatap, sorot mata tajam. “Aku bisa ngamuk.”“Ngamuk juga lucu,” kata Jati, makin mendekap. Dagu menyentuh bahu istrinya. “Ayo bangun. Kita janji periksa.”Gandes terdiam. Tangannya bergerak meraba perut. Ada rasa hangat, bukan cuma tubuh, melainkan perasaan. “Iya,” ucapnya lirih. “Aku siap.”Mer
Terakhir Diperbarui : 2026-01-16 Baca selengkapnya