“Teleponmu bunyi dari tadi,” ujar Yasmin saat Gandes meraih tas.Gandes mengangguk singkat. “Aku pamit dulu keluar, di sini agak gaduh."“Udah sore. Hati-hati, nanti digoda cowok.""Yasmin, memang ada yang mau sa emak-emak.""Emak-emak gimana dulu dong. Kalau nggak percaya, lihat tuh temannya Byan, yang namun main gitar itu. Dari tadi nyuri pandang terus ke kamu."Gandes menatap cowok yang kini sedang menatapnya juga. Sampai akhirnya Yasminenutup matanya. "Udah, sana. Aku bilang sama Mas Jati, baru tahu rasa kamu."Gandes terkekeh. “O, ya ... Jangan langsung pulang, ntar bareng nanti,” ucap Yasmin cepat. “Jangan khawatir. Emang aku bisa pulang tanpa kamu? "Yasmin terkekeh. Lampu kafe diredupkan perlahan. Musik akustik mengalun lembut, menyisakan dengung hangat. Beberapa pengunjung berdiri, merapikan kursi. Byan menurunkan gitar, matanya sempat kembali mencari Yasmin, lalu tertahan. Yasmin pura-pura sibuk membantu pelayan, menggeser gelas, menata meja. Tatapan itu tertangkap, nam
Terakhir Diperbarui : 2026-01-29 Baca selengkapnya