“Mas, biar aku saja, " ucap Gandes, sudah melangkah mendekat ke Janoko, pakde Jati yang menimang Jiendra.Tangis bayi mereda sepenuhnya saat tubuh kecil itu menempel di dadanya.Gandes menggeser pegangan, membiarkan kepala mungil bersandar lebih nyaman. Bau susu, bau hangat kulit bayi, menenangkan. Dunia seolah menyempit, tinggal detak jantungnya dan napas kecil yang teratur.“Tenang, jangan nangis,"bisiknya dengan mata yang buram. “Ibu ada.”Mata coklat mungil itu menatap sebentar. Gandes merasaka ada yang salah dalam dirinya. Matanya tak lagi bisa ditahan, sebulir air mata telah jatuh menetes.Pak Janoko sudah mundur. Orang-orang kembali bergerak. Namun bagi Gandes, waktu seperti berhenti. Ia berdiri, mengayun perlahan, menahan gemetar yang tadi nyaris merobohkannya.Jati ada di dekatnya, menatapnya dengan mata yang juga buram.Tatapan itu terasa di punggung, di tengkuk, di sela-sela napas. Gandes tak sadar. Ia menunduk, fokus pada anaknya, pada isapan kecil saat Maheswari memberik
Terakhir Diperbarui : 2026-01-24 Baca selengkapnya