Dua hari berlalu."Gandes, ayo, keluar! Jangan di kamar terus!"Suara Wulan menggema dari luar kontrakan, seperti seseorang yang sudah mengetuk pintu terlalu banyak dan kini mulai hilang kesabaran."Ayo, Ndes!" seru Rendi sambil nyengir dari luar. "Kita jalan bentar, refreshing. Masa masak terus kayak emak-emak? Ini malam Minggu.""Aku capek, Ren," sahut Gandes pelan. "Besok aja, ya."Wulan tidak menunggu izin, seperti biasa. Ia mendorong pintu dan masuk begitu saja. Udara malam ikut menyerbu masuk, membuat jilbab Gandes sedikit berkibar."Nggak bisa! Kita udah lama nggak nongkrong bareng. Sandi sama Wendra juga ikut, tuh. Udah tinggal kamu.""Ryan kerja," jawab Gandes singkat, hampir seperti gumaman. Ia menunduk, menatap jarinya sendiri."Nah, justru karena Ryan kerja, makanya kamu ikut," celetuk Wulan sambil mengedip. "Biar nggak melamun mulu nungguin dia.""Siapa juga yang nunggu?" sungut Gandes.Meski nada suaranya dibuat seenaknya, dadanya terasa hangat. Senyum selalu melintas sa
최신 업데이트 : 2025-11-14 더 보기