Kabut sore itu turun seperti selimut dingin yang menelan matahari. Langit berwarna kelabu pucat, dan udara lembap menusuk hingga ke tulang. Di ujung jalan berbatu, sebuah angkot berhenti dengan decit rem pelan.“Desa Arunika, ya?” tanya sopir sambil menoleh.Rani menatap ke luar jendela. Hanya hamparan sawah yang separuh tertutup kabut. Ia menelan ludah. “Iya, Pak. Di sini aja turunnya.”Begitu kakinya menapak tanah, udara terasa asing. Sunyi—sejenis sunyi yang bukan sekadar tak ada suara, tapi seolah sesuatu sedang mendengarkan dari balik kabut.Rani memeluk tas ranselnya erat. “Ya ampun, kok ngeri banget sih. Baru nyampe udah kayak film hantu lokal,” gumamnya pelan.Sopir itu tertawa kecil, tapi nadanya tak sepenuhnya santai. “Desa Arunika memang suka berkabut kalau sore, Neng. Jangan keluar malam, ya. Orang sini bilang, kalau kabutnya tebal, jangan nengok ke belakang.”Rani tertegun. “Hah? Kenapa?”Sopir itu hanya mengangkat bahu. “Katanya, nanti ada yang nengok balik.”Sebelum Ran
Last Updated : 2025-10-13 Read more