LOGINPagi di Desa Arunika tidak pernah benar-benar terang.
Kabut tipis selalu menggantung di antara pepohonan, menutupi langit yang mestinya biru. Burung-burung bersuara pelan, seperti takut membangunkan sesuatu yang sedang tidur. Rani membuka mata dengan kepala berat. Tubuhnya masih terasa dingin, seperti habis direndam air semalaman. Ia memandangi cermin di pojok ruangan yang kini tertutup kain lusuh. Tidak ada suara, tidak ada getaran. Tapi hawa dingin masih tinggal di udara, seolah cermin itu bernapas diam-diam. Suara ketukan pelan di pintu membuyarkan pikirannya. “Rani? Sudah bangun?” Itu suara Bu Lastri, pemilik kos yang sejak awal kelihatan terlalu santai menghadapi hal-hal aneh di desa ini. Rani cepat berdiri dan membuka pintu. Bu Lastri tersenyum hangat, membawa nampan berisi teh panas dan sepiring pisang goreng. “Pagi, Nak. Kamu pucat sekali. Semalaman nggak tidur, ya?” Rani berusaha tersenyum. “Sedikit... susah tidur, Bu.” “Ya ampun, kalau mau nyalain lampu malam-malam, nyalain aja. Jangan gelap-gelapan. Di sini, kalau ruangan gelap, yang kelihatan bukan cuma kita, lho.” Kalimat terakhir itu diucapkan dengan nada ringan, tapi cukup membuat Rani tercekat. Ia menatap Bu Lastri, mencoba menebak apakah wanita itu bercanda. Tapi sorot matanya terlalu tenang, terlalu tahu sesuatu. “Bu... Bu pernah denger tentang Cermin Batu itu nggak?” Bu Lastri berhenti menata pisang goreng. Ia menatap Rani, senyumnya perlahan menghilang. “Dari siapa kamu dengar itu?” “Dari warga waktu riset, terus semalam...” Rani ragu sejenak, “…ada yang aneh di kamarku.” Bu Lastri menarik kursi, duduk dengan napas berat. “Cermin Batu itu bukan buat diceritain, Nak. Dulu, desa ini sempat dikurung kabut tujuh hari tujuh malam gara-gara itu.” Rani mencondongkan tubuh. “Apa hubungannya sama Arunika?” Wanita itu menatap ke luar jendela. “Arunika… gadis muda yang dulu tinggal di rumah ujung hutan. Cantik, pintar, tapi nasibnya sial. Dia jatuh cinta pada penjaga cermin—orang yang seharusnya menjaga jarak dari semua manusia biasa.” “Penjaga?” “Ya. Lelaki yang diwarisi tugas menutup jalan antara dunia kita dan dunia mereka. Tapi Arunika melanggar. Ia menatap cermin itu bersama kekasihnya. Dan malam itu, kabut pertama turun.” Rani menelan ludah. Cerita itu terdengar seperti dongeng kelam—tapi mengingat semalam, ia tidak merasa itu cuma cerita. “Terus, apa yang terjadi sama mereka?” tanya Rani pelan. Bu Lastri menatapnya dalam-dalam. “Cintanya dikutuk. Tubuhnya terkunci di balik cermin, sementara jiwanya mengembara setiap kali kabut datang mencari gantinya.” Hening. Rani memandangi uap teh yang berputar pelan. “Jadi… arwah itu yang manggil aku Arunika semalam?” Bu Lastri tertegun. “Dia… memanggilmu?” Rani mengangguk lemah. “Dia bilang kami sama. Dua bayangan di satu tubuh.” Wajah Bu Lastri berubah pucat. Ia bangkit cepat, menatap kain penutup cermin di kamar Rani. “Nak, kamu harus pergi dari sini secepatnya.” “Lho, kenapa?” “Kalau arwah itu sudah memilih tubuh baru, dia nggak akan berhenti sampai berhasil masuk.” Tepat saat itu, suara langkah terdengar di luar—suara yang sudah mulai familiar bagi Rani. “Bu Lastri,” sapa Raka dari depan pintu. “Jangan panik dulu.” Ia masuk, membawa satu kantong plastik berisi garam dan segenggam bunga kenanga. “Aku udah bilang, kita nggak bisa lawan arwah itu pakai kabur. Dia bakal ngikut.” Bu Lastri mendesah. “Kamu tahu akibatnya, Ka. Kalau cermin itu aktif lagi, bukan cuma dia yang kena.” “Aku tahu,” jawab Raka tenang. “Tapi aku juga tahu kalau dia nggak sengaja. Sekarang aku yang tanggung jawab.” Rani menatap mereka bergantian. “Bentar, kalian berdua kayaknya tahu lebih banyak daripada yang aku tahu.” Raka meletakkan kantong garam di meja. “Keluargaku yang dulu jaga cermin itu, Ran. Dulu, tiap generasi ada satu orang yang ditugasin buat nutup jalan kalau ada yang terbuka. Tapi waktu kecil, aku gagal jaga ritualnya. Sejak itu, arwahnya bebas keluar waktu kabut turun.” “Dan kamu nggak pernah cerita?” “Karena kalau aku cerita dari awal, kamu nggak bakal percaya.” “Sekarang pun aku setengah percaya,” gumam Rani pelan. “Tapi... kayaknya otakku udah cukup rusak buat nerima hal aneh.” Raka terkekeh singkat. “Syukurlah kamu nggak lari.” “Aku mau, tapi koperku berat,” balas Rani cepat, mencoba menutupi ketakutannya dengan candaan. Raka hanya tersenyum kecil, lalu mulai menabur garam di sekeliling ruangan. --- Siang itu, mereka berjalan ke perpustakaan kecil desa—tempat penyimpanan arsip kuno yang jarang dibuka. Raka membawa kunci besi tua yang digantung di lehernya, katanya warisan keluarganya. “Jadi, kamu penjaga generasi berikutnya?” tanya Rani sambil berjalan. “Ya, meski aku nggak minta. Dulu aku kira itu cuma tradisi kampung yang dilebih-lebihkan.” “Terus sekarang?” “Sekarang aku pengen tradisi itu nggak pernah ada,” jawab Raka lirih. Perpustakaan itu berdiri di bawah pohon beringin besar. Udara di dalamnya lembap dan dingin. Rani menyalakan lampu minyak di meja, sementara Raka membuka laci berdebu yang berisi lembaran-lembaran catatan tua. “Kita cari catatan tentang Arunika,” kata Rani. “Kalau dia dikutuk, pasti ada alasannya. Mungkin bisa jadi petunjuk buat... ya, ngelamatin aku.” Raka menatapnya sekilas. “Kamu masih bisa bercanda di tengah kutukan. Hebat juga.” “Kalau nggak bercanda, aku nangis.” Raka tak menanggapi, tapi ada senyum tipis di wajahnya. Mereka membuka beberapa lembar manuskrip berbahasa Jawa kuno. Sebagian tulisannya sudah pudar. Rani menunjuk satu halaman yang masih jelas terbaca. “Ini… lihat, ada nama Arunika.” Raka mendekat, membaca pelan. “‘Arunika, sang penunggu cermin. Dikutuk karena cinta yang melanggar batas. Ia menunggu bayangan yang bisa menyatu dengannya.’” “Bayangan... menyatu?” ulang Rani pelan. “Jadi, dia butuh tubuh pengganti?” Raka mengangguk perlahan. “Dan mungkin dia pikir kamu itu dirinya sendiri. Bisa jadi kamu punya hubungan darah dengannya.” Rani mendengus. “Hubungan darah? Nenek moyangku aja orang kota semua. Nggak ada yang pernah cerita soal desa ini.” “Tapi kamu ke sini buat riset kepercayaan lokal, kan?” “Iya.” “Berarti bukan kebetulan.” Rani terdiam. Kata-kata Raka menggantung di udara. Mungkin benar—tidak ada yang benar-benar kebetulan di Desa Arunika. --- Menjelang sore, mereka keluar dari perpustakaan. Kabut mulai turun lagi. Raka menatap langit dengan dahi berkerut. “Dia bakal datang lagi malam ini,” katanya pelan. “Kamu siap?” “Kalau nggak siap juga harus siap, kan?” Rani berusaha tersenyum, meski jantungnya berdegup kencang. Raka menatapnya. “Kalau nanti ada apa-apa, tetap di dekat aku.” “Ngomong kayak gitu tuh bikin aku tambah gugup, tahu nggak?” “Kalau kamu takut, pegang tangan aku,” katanya tenang. Rani spontan menatapnya lama. “Ng—nggak usah sok romantis di tengah kabut begini!” Raka hanya mengangkat alis. “Siapa yang romantis? Aku cuma realistis. Kalau kamu pingsan, aku males gendong.” Rani mendengus. “Kamu tuh… nyebelin tapi nyenengin, tahu nggak?” “Kalau gitu jangan pindah kos dulu.” --- Malam pun tiba. Cahaya bulan redup, tertelan kabut. Rani duduk di tepi ranjang dengan senter di tangan, sementara Raka berdiri di dekat jendela, memperhatikan udara luar yang mulai berat. Suara daun berdesir, lalu… bisikan halus menyelinap dari balik kain cermin. > “Rani…” Rani menegang. “Dia mulai lagi.” Raka mengambil bunga kenanga dari tasnya, lalu menaburkannya di depan cermin. “Jangan jawab. Dia cuma nguji kamu.” > “Kenapa kau menutupku, Arunika?” suara itu kembali, lebih lembut, seperti rayuan. Rani menggigit bibir, menahan diri untuk tidak bereaksi. Tapi tubuhnya gemetar hebat. Air mata menetes tanpa sadar. Bayangan samar muncul di kain penutup, seperti tangan yang menyentuh dari balik sana. Raka menariknya ke belakang, memeluk bahunya pelan. “Tenang. Dia nggak bisa menembus kalau kamu nggak takut.” “Masalahnya aku udah takut dari tadi,” bisik Rani gemetar. “Ya, tapi kamu belum menyerah.” Nada suaranya lembut, membuat Rani sedikit tenang meski tubuhnya masih menggigil. Malam itu, mereka bertahan sampai fajar. Ketika cahaya pertama menyentuh kaca jendela, suara dari cermin perlahan menghilang. Rani memejamkan mata, lelah tapi lega. Dan di antara sisa kabut, Raka masih berdiri, menatap cermin itu dengan sorot mata penuh tekad. “Kita baru mulai, Arunika. Kali ini, aku nggak akan gagal lagi.”Pagi di Desa Arunika lagi-lagi dimulai dengan kabut.Tapi kali ini, kabutnya terasa… jinak.Mungkin karena semalam Rani tidak sendirian menghadapi ketakutannya.Ia keluar dari kamar dengan mata setengah terbuka dan rambut acak-acakan. Di meja dapur, sudah ada Raka duduk tenang sambil menyeruput kopi.“Selamat pagi, si pewaris kutukan,” sapanya santai tanpa menoleh.Rani mendengus. “Pagi juga, si penjaga cermin gagal.”Raka menahan tawa. “Kamu cepat belajar cara nyolot juga, ya.”“Efek stres,” balas Rani, duduk di kursi seberang. “Aku udah dua malam nggak tidur nyenyak. Sekarang tiap bayangan kayak ngajak ngobrol.”Raka mengangkat alis. “Termasuk bayangan aku?”“Yang itu malah ngeselin.”Raka tersenyum kecil — senyum yang jarang muncul, tapi cukup bikin Rani salah fokus.“Kalau kamu sempat ngelawak, berarti kamu masih baik-baik aja,” ujarnya ringan.“Baik-baik aja gimana? Aku udah hampir digondol arwah lokal, lho!”“Justru itu. Kalau kamu udah bisa ngeluh, berarti kamu belum mati.”“Ma
Pagi di Desa Arunika tidak pernah benar-benar terang.Kabut tipis selalu menggantung di antara pepohonan, menutupi langit yang mestinya biru.Burung-burung bersuara pelan, seperti takut membangunkan sesuatu yang sedang tidur.Rani membuka mata dengan kepala berat. Tubuhnya masih terasa dingin, seperti habis direndam air semalaman.Ia memandangi cermin di pojok ruangan yang kini tertutup kain lusuh. Tidak ada suara, tidak ada getaran. Tapi hawa dingin masih tinggal di udara, seolah cermin itu bernapas diam-diam.Suara ketukan pelan di pintu membuyarkan pikirannya.“Rani? Sudah bangun?”Itu suara Bu Lastri, pemilik kos yang sejak awal kelihatan terlalu santai menghadapi hal-hal aneh di desa ini.Rani cepat berdiri dan membuka pintu.Bu Lastri tersenyum hangat, membawa nampan berisi teh panas dan sepiring pisang goreng.“Pagi, Nak. Kamu pucat sekali. Semalaman nggak tidur, ya?”Rani berusaha tersenyum. “Sedikit... susah tidur, Bu.”“Ya ampun, kalau mau nyalain lampu malam-malam, nyalain
Malam itu, kabut turun lebih cepat dari biasanya. Langit belum sepenuhnya gelap, tapi udara sudah seperti diselimuti kapas basah. Angin membawa aroma tanah lembap dan daun kering, membuat bulu kuduk Rani meremang begitu saja. Di kamarnya, Rani duduk bersandar di tepi ranjang, mencoba menenangkan diri setelah kejadian tadi siang. Kalung batu hitam yang digantung di depan pintu kini sudah ia simpan di meja. Tapi entah kenapa, setiap kali matanya terarah ke benda itu, hawa di ruangan terasa berubah. “Untuk yang menatap cermin, pintu sudah terbuka,” gumamnya pelan, mengulang kalimat di kertas misterius itu. Ia mengusap wajah. “Kayak yang bikin pesan ini tuh sengaja pengen aku stres.” Rani mencoba mengalihkan perhatian dengan mengetik laporan di laptop. Tapi setiap beberapa detik, matanya tetap melirik ke arah cermin yang berdiri di sudut ruangan. Permukaannya terlihat biasa—sampai tiba-tiba muncul embun tipis di permukaannya. Padahal jendela tertutup rapat. “Jangan halu, Ran. Fokus
Pagi di Desa Arunika tak kalah aneh dari malamnya. Kabut tipis masih menggantung di antara pohon, dan udara pagi terasa seperti embun yang belum selesai menetes.Rani berdiri di depan cermin kamar kosnya sambil menyisir rambut. Tapi setiap kali matanya tak sengaja menatap pantulan itu terlalu lama, ada rasa tak nyaman yang menjalar. Bayangannya tampak sedikit… terlambat mengikuti gerakannya.Ia mendengus. “Kayaknya kurang tidur deh, makanya halu.”Tiba-tiba terdengar suara ketukan pelan di jendela.Tok. Tok. Tok.Rani menoleh spontan — dan mendapati seekor ayam berdiri di luar.“ASTAGA, AYAM?!” jeritnya. Ayam itu langsung kabur sambil berkotek.“Hebat, Ran. Bahkan unggas aja kabur dari kamu,” gumamnya kesal pada diri sendiri.Belum sempat ia menenangkan diri, pintu kamarnya diketuk dari luar.“Masuk aja kalau mau ngagetin sekalian!” katanya refleks. Tapi pintu benar-benar terbuka, menampakkan sosok Raka berdiri dengan ekspresi datar dan sepasang sandal lumpur.“Seriusan, kamu undang a
Kabut sore itu turun seperti selimut dingin yang menelan matahari. Langit berwarna kelabu pucat, dan udara lembap menusuk hingga ke tulang. Di ujung jalan berbatu, sebuah angkot berhenti dengan decit rem pelan.“Desa Arunika, ya?” tanya sopir sambil menoleh.Rani menatap ke luar jendela. Hanya hamparan sawah yang separuh tertutup kabut. Ia menelan ludah. “Iya, Pak. Di sini aja turunnya.”Begitu kakinya menapak tanah, udara terasa asing. Sunyi—sejenis sunyi yang bukan sekadar tak ada suara, tapi seolah sesuatu sedang mendengarkan dari balik kabut.Rani memeluk tas ranselnya erat. “Ya ampun, kok ngeri banget sih. Baru nyampe udah kayak film hantu lokal,” gumamnya pelan.Sopir itu tertawa kecil, tapi nadanya tak sepenuhnya santai. “Desa Arunika memang suka berkabut kalau sore, Neng. Jangan keluar malam, ya. Orang sini bilang, kalau kabutnya tebal, jangan nengok ke belakang.”Rani tertegun. “Hah? Kenapa?”Sopir itu hanya mengangkat bahu. “Katanya, nanti ada yang nengok balik.”Sebelum Ran