Mag-log inMalam itu, kabut turun lebih cepat dari biasanya.
Langit belum sepenuhnya gelap, tapi udara sudah seperti diselimuti kapas basah. Angin membawa aroma tanah lembap dan daun kering, membuat bulu kuduk Rani meremang begitu saja. Di kamarnya, Rani duduk bersandar di tepi ranjang, mencoba menenangkan diri setelah kejadian tadi siang. Kalung batu hitam yang digantung di depan pintu kini sudah ia simpan di meja. Tapi entah kenapa, setiap kali matanya terarah ke benda itu, hawa di ruangan terasa berubah. “Untuk yang menatap cermin, pintu sudah terbuka,” gumamnya pelan, mengulang kalimat di kertas misterius itu. Ia mengusap wajah. “Kayak yang bikin pesan ini tuh sengaja pengen aku stres.” Rani mencoba mengalihkan perhatian dengan mengetik laporan di laptop. Tapi setiap beberapa detik, matanya tetap melirik ke arah cermin yang berdiri di sudut ruangan. Permukaannya terlihat biasa—sampai tiba-tiba muncul embun tipis di permukaannya. Padahal jendela tertutup rapat. “Jangan halu, Ran. Fokus. Skripsi dulu, horor nanti,” bisiknya. Namun embun itu membentuk sesuatu. Siluet samar. Seperti napas dari balik kaca. Rani membeku. Ia menatap cermin itu lama. Tidak ada apa-apa—sampai bayangannya perlahan bergerak… lebih cepat dari dirinya sendiri. “Astag—” Belum sempat ia menyelesaikan kalimat, bayangan dalam cermin tersenyum—sementara Rani tidak. Tubuhnya langsung merinding dari ujung kaki sampai kepala. Ia spontan menutup cermin dengan kain sarung bantal, lalu mundur beberapa langkah sambil menatapnya dengan napas tersengal. “Udah, cukup. Aku udah cukup liat hal aneh hari ini,” desisnya. Tapi belum sampai ia menenangkan diri, terdengar ketukan di pintu. Tok. Tok. Tok. Rani menahan napas. “Raka?” panggilnya pelan. Tak ada jawaban. “Bu Lastri?” masih tak ada suara. Ketukan itu berhenti. Sunyi. Lalu terdengar bisikan samar dari arah cermin—suara perempuan, bergetar pelan seperti angin berdesir di telinga. > “Kenapa kamu menutup jalannya, Rani…” Tubuh Rani gemetar hebat. Ia menatap cermin tertutup kain itu, lalu berlari ke pintu. Tapi ketika ia buka, tak ada siapa pun di luar—hanya kabut yang menyelimuti seluruh halaman. Rani menatap sekeliling, jantung berdebar tak karuan. “Gila… ini nggak mungkin nyata,” bisiknya. Tiba-tiba, bayangan bergerak di balik kabut—tinggi, kurus, langkahnya perlahan seperti menapaki tanah yang basah. Rani mundur satu langkah, tapi saat sosok itu mendekat, cahaya lampu teras menampakkan wajahnya. Raka. “Kenapa kamu buka pintu malam-malam?” suaranya tenang tapi tegas. “Karena... aku kira kamu yang—” “Yang ngetuk?” potongnya. “Aku baru datang.” Rani menatapnya ngeri. “Jadi siapa yang barusan...?” Raka langsung menoleh ke arah kabut, matanya menajam. “Masuk. Sekarang.” Rani menurut tanpa banyak tanya. Raka menutup pintu dan menatap sekeliling kamar. “Kamu tutup cerminnya?” “Iya. Soalnya barusan kayak... ada yang napas dari dalam.” Raka mendekati cermin, menatap kain penutupnya. “Berarti udah kebuka jalurnya.” “Apa maksudmu ‘kebuka’?!” “Kalung yang kamu temuin tadi siang, itu kunci. Ada orang yang sengaja ngaktifin jalurnya lewat kamu.” “Ngaktifin? Aku bahkan nggak nyentuh batu itu!” Raka menatapnya dalam. “Tapi kamu menatapnya. Dan itu cukup.” --- Beberapa menit kemudian, Raka mengeluarkan beberapa benda dari tas kulit kecil yang dibawanya—segenggam garam kasar, seikat daun kering, dan seutas benang merah. Ia mulai mengelilingi cermin sambil menggumamkan doa pelan dalam bahasa Jawa kuno yang tak dimengerti Rani. “Ini buat nutup jalurnya sementara,” katanya. “Tapi kalau arwahnya udah keburu kenal sama energi kamu, kemungkinan dia bakal nyari cara lain.” “Kenal? Energi? Raka, kamu ngomong kayak aku ini modem wifi yang disambungin arwah!” “Bukan modem,” jawab Raka datar. “Lebih kayak... pintu yang terbuka separuh. Dia cuma butuh dorongan kecil buat masuk sepenuhnya.” Rani menatapnya tak percaya. “Dan kamu ngomong ini dengan nada super tenang, kayak lagi bahas harga cabai.” Raka hanya menatapnya lama, lalu berkata pelan, “Kalau aku panik, kamu tambah takut. Jadi pilihannya cuma dua: kamu tenang, atau kita dua-duanya kena.” Kata-kata itu menampar logika Rani. Ia terdiam, lalu akhirnya duduk di ranjang, memeluk bantal. “Oke. Oke. Aku tenang. Cuma sedikit... ngeri aja.” Raka menaruh daun kering di bawah cermin, lalu berlutut. “Daun ini dari pohon di sekitar Cermin Batu. Dia bisa menahan pantulan yang udah ‘bernyawa’.” Rani menatapnya. “Raka... kamu udah ngalamin hal kayak gini sebelumnya, ya?” Raka diam sesaat, lalu mengangguk pelan. “Dulu, waktu kecil, aku kehilangan kakak gara-gara cermin itu. Dia pikir cuma mitos, sampai bayangannya sendiri mulai ngomong balik.” Hening. “Dan dia…?” “Dia nggak pernah keluar lagi,” jawabnya datar. Rani menggigit bibirnya. “Aku... maaf.” “Nggak usah. Sekarang fokus aja biar kamu nggak jadi korban berikutnya.” --- Malam makin larut. Raka duduk di kursi dekat pintu, menjaga sambil menulis sesuatu di buku catatannya. Rani mencoba tidur, tapi setiap kali menutup mata, ia merasa ada yang mengawasi dari balik kain penutup cermin itu. Jam menunjukkan pukul dua belas lewat lima. Angin mendesir pelan. Kain yang menutup cermin bergoyang sedikit, lalu perlahan terangkat, seperti ada tangan tak terlihat yang menyingkapnya. Rani membuka mata—dan seketika menjerit. Di permukaan cermin, tampak wajah perempuan dengan rambut panjang basah, matanya gelap tanpa bola, kulitnya pucat seperti mayat tenggelam. Ia tersenyum tipis, menatap lurus ke arah Rani. Raka langsung bangkit, menabur garam ke arah cermin. “Jangan tatap matanya!” teriaknya. Tapi sudah terlambat. Rani terpaku, tubuhnya kaku, pupil matanya membesar. Suara perempuan dari dalam cermin terdengar jelas kini, bergema seperti datang dari dua dunia sekaligus. > “Kau akhirnya membuka jalan itu, Arunika...” Tubuh Rani tersentak. Ia menutup telinga, berusaha mengalihkan pandangan, tapi bayangan di cermin meniru setiap gerakannya dengan kecepatan aneh—kadang lebih dulu, kadang terlambat, seolah waktu di antara mereka tak sinkron. Raka menggenggam benang merah di tangannya, membentuk lingkaran di udara, lalu berteriak, “Tutup! Sekarang!” Api kecil menyala dari daun kering di bawah cermin. Suara teriakan gaib menggema, lalu perlahan menghilang. Hanya tersisa pantulan kosong dan Rani yang terengah, air mata menetes di pipinya. Hening. Cermin kembali normal. Tapi suasana kamar seperti kehilangan cahaya. Udara dingin menusuk sampai ke tulang. Raka menatap Rani, mendekat perlahan. “Kamu nggak apa-apa?” Rani hanya mengangguk pelan, suara tercekat. “Dia... dia manggil aku Arunika.” Raka menatapnya lama, lalu berkata pelan, “Mungkin kamu memang terhubung sama dia.” --- Setelah beberapa saat, Raka membereskan semua benda ritualnya. “Untuk sementara, aku bakal tidur di serambi depan. Jangan buka pintu, jangan liat ke cermin sampai aku bilang aman.” Rani menatapnya lemah. “Kamu nggak takut?” Raka tersenyum kecil. “Takut sih, tapi udah kebiasaan.” Sebelum keluar, ia menatap Rani sekali lagi. “Kalau kamu denger suara perempuan manggil namamu nanti malam, jangan jawab. Apa pun yang dia bilang.” Rani mengangguk. “Oke.” Begitu pintu menutup, kamar kembali sunyi. Rani menarik napas panjang, lalu rebahan. Ia mencoba memejamkan mata, tapi setiap kali melakukannya, wajah dari cermin itu muncul lagi di kepalanya. Tepat saat ia mulai terlelap, bisikan itu terdengar lagi. Pelan. Dekat. Dari arah dalam cermin. > “Rani... aku cuma mau lihat wajahmu sekali lagi...” Rani menahan napas. Tangannya gemetar di bawah selimut. Suara itu makin jelas. > “Kau tahu... kita sama... Aku dan kamu... Arunika dan Rani... dua bayangan di satu tubuh.” Lalu cermin bergetar pelan, seperti ada sesuatu yang mencoba keluar. Rani memejamkan mata, menahan tangis, dan berbisik ketakutan, “Raka... tolong...”Pagi di Desa Arunika lagi-lagi dimulai dengan kabut.Tapi kali ini, kabutnya terasa… jinak.Mungkin karena semalam Rani tidak sendirian menghadapi ketakutannya.Ia keluar dari kamar dengan mata setengah terbuka dan rambut acak-acakan. Di meja dapur, sudah ada Raka duduk tenang sambil menyeruput kopi.“Selamat pagi, si pewaris kutukan,” sapanya santai tanpa menoleh.Rani mendengus. “Pagi juga, si penjaga cermin gagal.”Raka menahan tawa. “Kamu cepat belajar cara nyolot juga, ya.”“Efek stres,” balas Rani, duduk di kursi seberang. “Aku udah dua malam nggak tidur nyenyak. Sekarang tiap bayangan kayak ngajak ngobrol.”Raka mengangkat alis. “Termasuk bayangan aku?”“Yang itu malah ngeselin.”Raka tersenyum kecil — senyum yang jarang muncul, tapi cukup bikin Rani salah fokus.“Kalau kamu sempat ngelawak, berarti kamu masih baik-baik aja,” ujarnya ringan.“Baik-baik aja gimana? Aku udah hampir digondol arwah lokal, lho!”“Justru itu. Kalau kamu udah bisa ngeluh, berarti kamu belum mati.”“Ma
Pagi di Desa Arunika tidak pernah benar-benar terang.Kabut tipis selalu menggantung di antara pepohonan, menutupi langit yang mestinya biru.Burung-burung bersuara pelan, seperti takut membangunkan sesuatu yang sedang tidur.Rani membuka mata dengan kepala berat. Tubuhnya masih terasa dingin, seperti habis direndam air semalaman.Ia memandangi cermin di pojok ruangan yang kini tertutup kain lusuh. Tidak ada suara, tidak ada getaran. Tapi hawa dingin masih tinggal di udara, seolah cermin itu bernapas diam-diam.Suara ketukan pelan di pintu membuyarkan pikirannya.“Rani? Sudah bangun?”Itu suara Bu Lastri, pemilik kos yang sejak awal kelihatan terlalu santai menghadapi hal-hal aneh di desa ini.Rani cepat berdiri dan membuka pintu.Bu Lastri tersenyum hangat, membawa nampan berisi teh panas dan sepiring pisang goreng.“Pagi, Nak. Kamu pucat sekali. Semalaman nggak tidur, ya?”Rani berusaha tersenyum. “Sedikit... susah tidur, Bu.”“Ya ampun, kalau mau nyalain lampu malam-malam, nyalain
Malam itu, kabut turun lebih cepat dari biasanya. Langit belum sepenuhnya gelap, tapi udara sudah seperti diselimuti kapas basah. Angin membawa aroma tanah lembap dan daun kering, membuat bulu kuduk Rani meremang begitu saja. Di kamarnya, Rani duduk bersandar di tepi ranjang, mencoba menenangkan diri setelah kejadian tadi siang. Kalung batu hitam yang digantung di depan pintu kini sudah ia simpan di meja. Tapi entah kenapa, setiap kali matanya terarah ke benda itu, hawa di ruangan terasa berubah. “Untuk yang menatap cermin, pintu sudah terbuka,” gumamnya pelan, mengulang kalimat di kertas misterius itu. Ia mengusap wajah. “Kayak yang bikin pesan ini tuh sengaja pengen aku stres.” Rani mencoba mengalihkan perhatian dengan mengetik laporan di laptop. Tapi setiap beberapa detik, matanya tetap melirik ke arah cermin yang berdiri di sudut ruangan. Permukaannya terlihat biasa—sampai tiba-tiba muncul embun tipis di permukaannya. Padahal jendela tertutup rapat. “Jangan halu, Ran. Fokus
Pagi di Desa Arunika tak kalah aneh dari malamnya. Kabut tipis masih menggantung di antara pohon, dan udara pagi terasa seperti embun yang belum selesai menetes.Rani berdiri di depan cermin kamar kosnya sambil menyisir rambut. Tapi setiap kali matanya tak sengaja menatap pantulan itu terlalu lama, ada rasa tak nyaman yang menjalar. Bayangannya tampak sedikit… terlambat mengikuti gerakannya.Ia mendengus. “Kayaknya kurang tidur deh, makanya halu.”Tiba-tiba terdengar suara ketukan pelan di jendela.Tok. Tok. Tok.Rani menoleh spontan — dan mendapati seekor ayam berdiri di luar.“ASTAGA, AYAM?!” jeritnya. Ayam itu langsung kabur sambil berkotek.“Hebat, Ran. Bahkan unggas aja kabur dari kamu,” gumamnya kesal pada diri sendiri.Belum sempat ia menenangkan diri, pintu kamarnya diketuk dari luar.“Masuk aja kalau mau ngagetin sekalian!” katanya refleks. Tapi pintu benar-benar terbuka, menampakkan sosok Raka berdiri dengan ekspresi datar dan sepasang sandal lumpur.“Seriusan, kamu undang a
Kabut sore itu turun seperti selimut dingin yang menelan matahari. Langit berwarna kelabu pucat, dan udara lembap menusuk hingga ke tulang. Di ujung jalan berbatu, sebuah angkot berhenti dengan decit rem pelan.“Desa Arunika, ya?” tanya sopir sambil menoleh.Rani menatap ke luar jendela. Hanya hamparan sawah yang separuh tertutup kabut. Ia menelan ludah. “Iya, Pak. Di sini aja turunnya.”Begitu kakinya menapak tanah, udara terasa asing. Sunyi—sejenis sunyi yang bukan sekadar tak ada suara, tapi seolah sesuatu sedang mendengarkan dari balik kabut.Rani memeluk tas ranselnya erat. “Ya ampun, kok ngeri banget sih. Baru nyampe udah kayak film hantu lokal,” gumamnya pelan.Sopir itu tertawa kecil, tapi nadanya tak sepenuhnya santai. “Desa Arunika memang suka berkabut kalau sore, Neng. Jangan keluar malam, ya. Orang sini bilang, kalau kabutnya tebal, jangan nengok ke belakang.”Rani tertegun. “Hah? Kenapa?”Sopir itu hanya mengangkat bahu. “Katanya, nanti ada yang nengok balik.”Sebelum Ran







