เข้าสู่ระบบPagi di Desa Arunika lagi-lagi dimulai dengan kabut.
Tapi kali ini, kabutnya terasa… jinak. Mungkin karena semalam Rani tidak sendirian menghadapi ketakutannya. Ia keluar dari kamar dengan mata setengah terbuka dan rambut acak-acakan. Di meja dapur, sudah ada Raka duduk tenang sambil menyeruput kopi. “Selamat pagi, si pewaris kutukan,” sapanya santai tanpa menoleh. Rani mendengus. “Pagi juga, si penjaga cermin gagal.” Raka menahan tawa. “Kamu cepat belajar cara nyolot juga, ya.” “Efek stres,” balas Rani, duduk di kursi seberang. “Aku udah dua malam nggak tidur nyenyak. Sekarang tiap bayangan kayak ngajak ngobrol.” Raka mengangkat alis. “Termasuk bayangan aku?” “Yang itu malah ngeselin.” Raka tersenyum kecil — senyum yang jarang muncul, tapi cukup bikin Rani salah fokus. “Kalau kamu sempat ngelawak, berarti kamu masih baik-baik aja,” ujarnya ringan. “Baik-baik aja gimana? Aku udah hampir digondol arwah lokal, lho!” “Justru itu. Kalau kamu udah bisa ngeluh, berarti kamu belum mati.” “Mas Raka…” Rani menatapnya kesal, tapi bibirnya susah menahan tawa. “Ya?” “Kadang aku pengin lempar kamu ke cermin batu itu biar arwahnya kapok.” “Kalau aku yang diambil, bisa-bisa arwahnya kabur lagi,” balasnya tanpa ekspresi. Rani tertawa lepas. Untuk pertama kalinya, suara tawanya menggema ringan di rumah itu — menepis sedikit aura dingin yang masih menggantung. --- Hari itu, Rani memutuskan untuk kembali ke aktivitas semula: riset skripsi. Ia berjalan keliling desa dengan buku catatan, merekam cerita warga tentang mitos Arunika. Beberapa warga masih menatapnya canggung, tapi sudah tidak seaneh sebelumnya. “Orang-orang di sini baik, tapi… ngomongnya berputar-putar,” keluh Rani sambil menulis di pinggir sawah. “Mereka semua bilang ‘jangan sebut namanya’, tapi nggak bilang siapa namanya.” Tiba-tiba suara dari belakang membuatnya melonjak. “Kalau kamu terus nulis di tengah sawah gini, yang kamu wawancara nanti malah kodok.” Rani menoleh — tentu saja, Raka berdiri di sana, memanggul cangkul dan wajah datarnya masih sama. “Masya Allah! Bisa nggak sih munculnya nggak tiba-tiba begitu?!” “Desa ini kecil. Gimana caranya aku nggak tiba-tiba?” “Minimal kasih aba-aba, kek! Batuk dulu atau nyanyi dangdut gitu!” “Kalau aku nyanyi, kabut bisa balik,” jawabnya datar. Rani mendesah panjang. “Aku sumpah, kamu tuh misterius banget sekaligus ngeselin.” “Tapi kamu masih di sini.” “Karena belum nemu jalan keluar dari desa ini!” Raka terkekeh pelan, lalu ikut duduk di pematang sawah. --- Sepanjang siang mereka berjalan bersama. Raka memperkenalkan Rani pada beberapa warga — Bu Narti penjual jamu, Pak Sumadi penjaga balai desa, dan anak kecil bernama Jalu yang suka ngikutin mereka. Entah kenapa, sejak Raka muncul, warga jadi lebih ramah pada Rani. “Mereka nurut banget sama kamu, ya,” ujar Rani saat mereka melewati pasar kecil. Raka mengangkat bahu. “Mereka pikir aku bisa ngusir kabut.” “Bisa?” “Nggak. Aku cuma pura-pura percaya diri.” Rani tertawa. “Hebat juga, pura-puranya meyakinkan.” --- Sore menjelang, Rani duduk di teras rumah kos sambil menulis. Raka duduk di tangga depan, memperbaiki senter rusak. Suasana tenang, hanya suara jangkrik yang terdengar. “Mas Raka,” panggil Rani pelan. “Hm?” “Kalau kamu dulu gagal jaga upacara, kamu nyesel, nggak?” Raka berhenti sejenak. “Tiap malam.” Rani menatapnya, kali ini tanpa gurauan. “Tapi kenapa kamu masih mau bantu aku?” “Karena mungkin ini caraku benerin yang dulu.” “Tapi bisa aja kamu malah celaka, kan?” Raka menatap langit, nada suaranya tenang tapi dalam. “Penjaga nggak bisa lari dari warisannya. Sama kayak kamu nggak bisa lari dari cermin itu.” Rani menggigit bibir, tidak tahu harus menjawab apa. Diam-diam, ia menatap Raka lebih lama. Wajah cueknya itu punya sesuatu yang menenangkan, meski mulutnya suka nyelekit. “Mas Raka…” katanya akhirnya. “Kamu tuh keren juga kalau diem.” “Makanya aku diem terus,” jawabnya cepat. “Dan rusak lagi momennya,” desah Rani. --- Malam itu, Rani mencoba tidur lebih cepat. Tapi baru saja matanya hampir terpejam, suara berisik dari dapur membuatnya melonjak bangun. Krakk... krakkk... clang! Rani meraih senter dengan tangan gemetar. “Tikus... atau... bukan tikus?” gumamnya ngeri. Ia melangkah perlahan, tapi begitu sampai di dapur, yang ia temukan adalah sosok Raka sedang jongkok di depan tungku. “MAS RAKA?! Aku kira maling! Astaga, jantungku hampir copot!” Raka menatapnya datar. “Kalau maling, masa masak air?” “Jam segini?!” “Garam buat ritual nanti subuh. Kalau nggak disiapin sekarang, bisa gagal.” “Kenapa nggak bilang dulu sih? Aku hampir... ya ampun, aku tuh penakut!” Raka berdiri, membawa panci air panas. “Aku udah bilang. Kamu yang panikan.” “Beda! Penakut itu manusiawi, panikan itu refleks!” “Refleks kamu keras banget, hampir aku kena senter tadi.” Rani menutup wajahnya. “Aku capek jadi bahan lelucon.” “Kalau capek, tidur. Aku jagain.” “Serius?” “Kalau aku bercanda, kamu pasti bisa bedain.” Rani diam beberapa detik. Suara jangkrik dan gemericik air jadi satu-satunya latar. “Mas Raka…” katanya pelan. “Kamu nggak takut?” “Takut apa?” “Hantu, kutukan, atau kabut ini.” Raka tersenyum tipis. “Dulu takut. Tapi lama-lama aku sadar, yang paling menyeramkan itu bukan arwah.” “Terus apa?” “Manusia yang nyesel seumur hidup.” Rani menatapnya lama, dada terasa hangat. Untuk pertama kalinya, ia melihat Raka bukan cuma sebagai penjaga cermin, tapi juga seseorang yang terluka. “Mas…” “Hm?” “Boleh jujur nggak?” “Silakan.” “Aku tuh nggak tahu kenapa... tapi setiap kamu ngomong kayak gitu, rasa takutku jadi agak ilang.” “Berarti aku berhasil.” “Ngomongnya kayak promosi jasa motivator, ya,” canda Rani. Raka menatapnya serius. “Aku cuma pengen kamu bisa tidur tanpa mimpi buruk.” Dan malam itu, Rani benar-benar bisa tidur — untuk pertama kalinya sejak datang ke desa itu. --- Keesokan harinya, Rani terbangun dengan energi baru. Ia membuka jendela dan menghirup udara dingin segar. Kabut masih tipis, tapi terasa tidak menakutkan lagi. Di luar, Raka sedang menjemur bunga kenanga di halaman. “Mas Raka!” panggil Rani ceria. “Aku bantu, ya?” “Boleh, tapi jangan injek bunga kayak kemarin.” “Itu nggak sengaja! Aku kira daun kering!” Raka hanya tersenyum miring. “Kamu harus latihan ngebedain mana bunga, mana kutukan.” “Wah, kalau ada mata kuliahnya, aku udah skripsi bab tiga tuh.” Mereka tertawa kecil. Momen sederhana itu membuat suasana terasa normal — meski mereka tahu, di balik tawa itu, ada bahaya yang masih menunggu. --- Menjelang sore, Raka memeriksa kembali cermin kecil di kamar Rani. Kain penutupnya masih utuh, tapi permukaan bawahnya mulai menghitam. Rani memperhatikan dari belakang. “Itu artinya apa?” “Dia belum pergi,” jawab Raka datar. “Tapi belum kuat buat muncul lagi.” “Jadi masih ada waktu?” “Sedikit.” “Dan kamu yakin bisa benerin semua ini?” Raka menatapnya, senyumnya tipis. “Aku nggak yakin. Tapi aku nggak akan ninggalin kamu.” Rani menelan ludah. “Kamu ngomongnya tuh kayak di drama romantis.” “Ini bukan drama. Ini realita di desa kutukan.” “Ya ampun, kamu bikin aku susah bedain mana serius mana bercanda.” Raka menatapnya lama, lalu berkata pelan, “Kalau kamu udah mulai bingung, berarti kamu udah nyaman di sini.” “Nyaman di desa angker? Kamu pikir aku siapa?” “Rani.” “...Oh iya, bener juga,” katanya malu-malu. Dan entah kenapa, Rani merasa wajahnya memanas. Raka menatapnya sebentar, lalu berjalan keluar sambil membawa bunga kenanga. “Jangan keluar malam ini,” katanya singkat. “Kenapa?” “Karena kabutnya bakal datang lebih tebal.” “Terus kamu?” “Aku yang jagain pintu.” Dan malam itu, untuk pertama kalinya Rani benar-benar percaya — bahwa bahkan di desa yang dipenuhi kutukan, ada seseorang yang membuatnya merasa aman.Pagi di Desa Arunika lagi-lagi dimulai dengan kabut.Tapi kali ini, kabutnya terasa… jinak.Mungkin karena semalam Rani tidak sendirian menghadapi ketakutannya.Ia keluar dari kamar dengan mata setengah terbuka dan rambut acak-acakan. Di meja dapur, sudah ada Raka duduk tenang sambil menyeruput kopi.“Selamat pagi, si pewaris kutukan,” sapanya santai tanpa menoleh.Rani mendengus. “Pagi juga, si penjaga cermin gagal.”Raka menahan tawa. “Kamu cepat belajar cara nyolot juga, ya.”“Efek stres,” balas Rani, duduk di kursi seberang. “Aku udah dua malam nggak tidur nyenyak. Sekarang tiap bayangan kayak ngajak ngobrol.”Raka mengangkat alis. “Termasuk bayangan aku?”“Yang itu malah ngeselin.”Raka tersenyum kecil — senyum yang jarang muncul, tapi cukup bikin Rani salah fokus.“Kalau kamu sempat ngelawak, berarti kamu masih baik-baik aja,” ujarnya ringan.“Baik-baik aja gimana? Aku udah hampir digondol arwah lokal, lho!”“Justru itu. Kalau kamu udah bisa ngeluh, berarti kamu belum mati.”“Ma
Pagi di Desa Arunika tidak pernah benar-benar terang.Kabut tipis selalu menggantung di antara pepohonan, menutupi langit yang mestinya biru.Burung-burung bersuara pelan, seperti takut membangunkan sesuatu yang sedang tidur.Rani membuka mata dengan kepala berat. Tubuhnya masih terasa dingin, seperti habis direndam air semalaman.Ia memandangi cermin di pojok ruangan yang kini tertutup kain lusuh. Tidak ada suara, tidak ada getaran. Tapi hawa dingin masih tinggal di udara, seolah cermin itu bernapas diam-diam.Suara ketukan pelan di pintu membuyarkan pikirannya.“Rani? Sudah bangun?”Itu suara Bu Lastri, pemilik kos yang sejak awal kelihatan terlalu santai menghadapi hal-hal aneh di desa ini.Rani cepat berdiri dan membuka pintu.Bu Lastri tersenyum hangat, membawa nampan berisi teh panas dan sepiring pisang goreng.“Pagi, Nak. Kamu pucat sekali. Semalaman nggak tidur, ya?”Rani berusaha tersenyum. “Sedikit... susah tidur, Bu.”“Ya ampun, kalau mau nyalain lampu malam-malam, nyalain
Malam itu, kabut turun lebih cepat dari biasanya. Langit belum sepenuhnya gelap, tapi udara sudah seperti diselimuti kapas basah. Angin membawa aroma tanah lembap dan daun kering, membuat bulu kuduk Rani meremang begitu saja. Di kamarnya, Rani duduk bersandar di tepi ranjang, mencoba menenangkan diri setelah kejadian tadi siang. Kalung batu hitam yang digantung di depan pintu kini sudah ia simpan di meja. Tapi entah kenapa, setiap kali matanya terarah ke benda itu, hawa di ruangan terasa berubah. “Untuk yang menatap cermin, pintu sudah terbuka,” gumamnya pelan, mengulang kalimat di kertas misterius itu. Ia mengusap wajah. “Kayak yang bikin pesan ini tuh sengaja pengen aku stres.” Rani mencoba mengalihkan perhatian dengan mengetik laporan di laptop. Tapi setiap beberapa detik, matanya tetap melirik ke arah cermin yang berdiri di sudut ruangan. Permukaannya terlihat biasa—sampai tiba-tiba muncul embun tipis di permukaannya. Padahal jendela tertutup rapat. “Jangan halu, Ran. Fokus
Pagi di Desa Arunika tak kalah aneh dari malamnya. Kabut tipis masih menggantung di antara pohon, dan udara pagi terasa seperti embun yang belum selesai menetes.Rani berdiri di depan cermin kamar kosnya sambil menyisir rambut. Tapi setiap kali matanya tak sengaja menatap pantulan itu terlalu lama, ada rasa tak nyaman yang menjalar. Bayangannya tampak sedikit… terlambat mengikuti gerakannya.Ia mendengus. “Kayaknya kurang tidur deh, makanya halu.”Tiba-tiba terdengar suara ketukan pelan di jendela.Tok. Tok. Tok.Rani menoleh spontan — dan mendapati seekor ayam berdiri di luar.“ASTAGA, AYAM?!” jeritnya. Ayam itu langsung kabur sambil berkotek.“Hebat, Ran. Bahkan unggas aja kabur dari kamu,” gumamnya kesal pada diri sendiri.Belum sempat ia menenangkan diri, pintu kamarnya diketuk dari luar.“Masuk aja kalau mau ngagetin sekalian!” katanya refleks. Tapi pintu benar-benar terbuka, menampakkan sosok Raka berdiri dengan ekspresi datar dan sepasang sandal lumpur.“Seriusan, kamu undang a
Kabut sore itu turun seperti selimut dingin yang menelan matahari. Langit berwarna kelabu pucat, dan udara lembap menusuk hingga ke tulang. Di ujung jalan berbatu, sebuah angkot berhenti dengan decit rem pelan.“Desa Arunika, ya?” tanya sopir sambil menoleh.Rani menatap ke luar jendela. Hanya hamparan sawah yang separuh tertutup kabut. Ia menelan ludah. “Iya, Pak. Di sini aja turunnya.”Begitu kakinya menapak tanah, udara terasa asing. Sunyi—sejenis sunyi yang bukan sekadar tak ada suara, tapi seolah sesuatu sedang mendengarkan dari balik kabut.Rani memeluk tas ranselnya erat. “Ya ampun, kok ngeri banget sih. Baru nyampe udah kayak film hantu lokal,” gumamnya pelan.Sopir itu tertawa kecil, tapi nadanya tak sepenuhnya santai. “Desa Arunika memang suka berkabut kalau sore, Neng. Jangan keluar malam, ya. Orang sini bilang, kalau kabutnya tebal, jangan nengok ke belakang.”Rani tertegun. “Hah? Kenapa?”Sopir itu hanya mengangkat bahu. “Katanya, nanti ada yang nengok balik.”Sebelum Ran







