MasukPagi di Desa Arunika tak kalah aneh dari malamnya. Kabut tipis masih menggantung di antara pohon, dan udara pagi terasa seperti embun yang belum selesai menetes.
Rani berdiri di depan cermin kamar kosnya sambil menyisir rambut. Tapi setiap kali matanya tak sengaja menatap pantulan itu terlalu lama, ada rasa tak nyaman yang menjalar. Bayangannya tampak sedikit… terlambat mengikuti gerakannya. Ia mendengus. “Kayaknya kurang tidur deh, makanya halu.” Tiba-tiba terdengar suara ketukan pelan di jendela. Tok. Tok. Tok. Rani menoleh spontan — dan mendapati seekor ayam berdiri di luar. “ASTAGA, AYAM?!” jeritnya. Ayam itu langsung kabur sambil berkotek. “Hebat, Ran. Bahkan unggas aja kabur dari kamu,” gumamnya kesal pada diri sendiri. Belum sempat ia menenangkan diri, pintu kamarnya diketuk dari luar. “Masuk aja kalau mau ngagetin sekalian!” katanya refleks. Tapi pintu benar-benar terbuka, menampakkan sosok Raka berdiri dengan ekspresi datar dan sepasang sandal lumpur. “Seriusan, kamu undang aku masuk barusan?” tanyanya. Rani ternganga. “Kamu denger, ya?” “Denger, makanya aku masuk.” “Ya ampun, aku tuh ngomong sarkasme, bukan beneran—” “Lain kali bedain intonasi,” potong Raka santai sambil meletakkan termos di meja. “Ini air jahe. Bu Lastri yang suruh. Katanya kamu kelihatan pucat.” Rani menatapnya curiga. “Kamu sering banget nongol tiba-tiba, ya?” Raka hanya menatap balik. “Desa ini kecil. Kamu doang yang berisiknya kedengeran sampai kebon.” Rani mendengus. “Kebon atau kuburan?” “Dua-duanya deket,” jawabnya tanpa ekspresi. Rani langsung meneguk air jahenya cepat-cepat. “Aku mulai paham kenapa desa ini sepi.” Raka menahan tawa kecil. Ia berjalan mendekati jendela, menatap ke arah hutan di kejauhan. “Tadi malam kamu liat sesuatu, kan?” Rani menatap punggungnya. “Iya. Bayangan tanpa kepala. Di depan pagar.” “Masih beruntung kamu cuma liat.” “Kalau nggak beruntung?” Raka menoleh, menatapnya serius. “Kamu bisa hilang.” Kata-katanya meluncur pelan, tapi menancap seperti paku dingin. Rani menelan ludah. “Maksudnya...?” Raka menghela napas. “Desa Arunika punya pantangan. Kalau kabut turun, jangan liat keluar, jangan bicara sama siapa pun di luar, dan jangan sekali-kali mendekati Cermin Batu. Itu peninggalan leluhur kami.” “Cermin Batu? Maksudnya kayak... cermin beneran?” “Bukan. Itu batu besar di tengah hutan, permukaannya memantul seperti kaca. Dulu dipakai untuk ritual leluhur—sampai sesuatu salah, dan kutukan mulai turun.” “Kutukan?” Rani refleks menegakkan tubuh. “Aku udah di sini dua hari, dan kata ‘kutukan’ baru muncul sekarang? Serius, Mas, ini kayak desa yang butuh papan peringatan di gapura.” Raka menatapnya tanpa ekspresi. “Kalau ada papan peringatan, kamu kira kamu bakal percaya?” Rani terdiam. Oke, poinnya valid. Raka berjalan ke arah meja, menatap cermin batu kecil yang berdiri di sudut kamar. “Cermin ini,” katanya, “bukan cuma pajangan. Dulu rumah ini milik salah satu penjaga leluhur. Setiap penjaga punya cermin kecil yang terhubung dengan batu utama di hutan. Kalau kamu ngerasa ada bayangan aneh... itu karena cerminnya masih aktif.” Rani mundur pelan. “Aktif? Kamu ngomong kayak ini barang elektronik, deh.” “Bukan, tapi prinsipnya sama. Kalau dihidupin dari satu sisi, pantulannya bisa buka jalan ke sisi lain.” “Masalahnya, aku nggak pernah ‘ngidupin’ cermin ini!” “Kadang cukup cuma ngelihat.” Rani menatap cermin itu lagi. Kini pantulannya terlihat normal, tapi hawa dingin di sekitarnya terasa lain. “Kalau gitu... siapa yang hidup di sisi satunya?” Raka menatapnya datar. “Itu yang lagi kita cari tau.” --- Siang itu, Raka mengajak Rani jalan ke arah balai desa. Jalan setapak yang mereka lewati diapit pohon bambu dan rumah-rumah tua beratap ijuk. Anak-anak kecil bermain layangan, sementara orang tua duduk di teras sambil menganyam daun kelapa. Rani berusaha menulis catatan di buku kecilnya, tapi fokusnya buyar oleh pandangan warga yang seperti... menatapnya dengan rasa kasihan. “Kenapa mereka ngeliatin aku gitu?” bisiknya. “Mungkin dikira kamu turis tersesat.” “Emang segitu parah tampangku?” Raka menatapnya sebentar. “Nggak. Cuma... kamu asing. Desa ini udah lama nggak kedatangan orang luar.” Rani berhenti berjalan. “Terus kenapa kamu bantu aku?” Raka hanya menjawab singkat, “Karena kamu nyewa kos di rumah yang salah.” “Wow, cara ngomong kamu tuh bisa dijadiin kampanye pariwisata terburuk,” balas Rani. Tapi Raka hanya tersenyum samar—sekilas, tapi nyata. “Setidaknya kamu masih bisa bercanda.” --- Di balai desa, Raka memperkenalkan Rani pada Pak Wiryo, tetua kampung. Lelaki tua itu menatap Rani lama, seolah mencari sesuatu di wajahnya. “Mahasiswi dari kota?” suaranya serak. “Kamu dari mana asalnya, Nak?” “Dari Bandung, Pak,” jawab Rani gugup. Pak Wiryo mengangguk pelan. “Pernah dengar nama Arunika?” Rani mengerutkan kening. “Cuma nama desa ini, kan?” Lelaki tua itu tersenyum pahit. “Arunika bukan hanya nama tempat. Dulu, Arunika adalah nama seorang gadis... yang dikutuk.” Suasana di ruangan itu berubah sunyi. Raka menunduk sedikit, sementara Rani menatap dengan rasa ingin tahu bercampur cemas. “Katanya,” lanjut Pak Wiryo pelan, “Arunika mencintai penjaga cermin. Tapi karena melanggar aturan suci, arwahnya terperangkap di dalam batu itu. Sejak saat itu, setiap kali kabut turun, dia mencari tubuh pengganti agar bisa bebas.” Rani menggigil. “Dan... kamu pengen bilang yang tadi malam—” “Bisa jadi itu dia,” potong Raka. “Masalahnya, kenapa harus aku yang kena?!” Rani hampir menjerit. Pak Wiryo memejamkan mata. “Mungkin karena kamu mirip seseorang dari masa lalu.” Rani langsung melotot ke arah Raka. “Jangan bilang maksudnya aku mirip si... Arunika itu?” Raka hanya menjawab dengan gumaman pelan, “Ya, mungkin.” Rani mendesah keras. “Ya ampun, aku ke sini buat skripsi, bukan buat jadi reinkarnasi gadis terkutuk!” Pak Wiryo hanya tersenyum samar. “Mungkin itu sebabnya takdir membawamu ke sini, Nak. Kadang yang kita cari... justru sedang mencari kita.” --- Dalam perjalanan pulang, Rani tak berhenti mengomel. “Ini gila. Aku baru dua hari, udah dapet ancaman arwah tanpa kepala, kutukan leluhur, dan cowok penjaga cermin yang hobi ngomong misterius.” “Lebih baik misterius daripada panikan,” timpal Raka. “Panikan itu naluriah kalau kamu liat hantu!” Raka meliriknya sebentar. “Kamu bahkan teriak lihat ayam tadi pagi.” “ITU REFLEKS!” Suara tawa kecil lolos dari bibir Raka, dan entah kenapa, Rani jadi salah tingkah. “Halah, jangan ketawa! Nggak lucu tau!” “Lucu. Karena kamu lebih takut ayam daripada hantu.” Rani menatapnya tajam, tapi ujung bibirnya justru ikut terangkat. Untuk pertama kalinya, kabut Arunika terasa sedikit lebih ringan. Namun saat mereka sampai di depan rumah kos, sesuatu membuat Rani berhenti mendadak. Di depan pintu kamarnya — tergantung sebuah kalung tua berbandul batu hitam berbentuk bulat, berdebu tapi tampak baru disentuh. Di bawahnya ada selembar kertas kusam bertuliskan tulisan tangan: > “Untuk yang menatap cermin, pintu sudah terbuka.” Rani menatap Raka, wajahnya mulai pucat. Raka mendekat, membaca tulisan itu, lalu berbisik pelan. “Mulai malam ini, jangan sendirian.”Pagi di Desa Arunika lagi-lagi dimulai dengan kabut.Tapi kali ini, kabutnya terasa… jinak.Mungkin karena semalam Rani tidak sendirian menghadapi ketakutannya.Ia keluar dari kamar dengan mata setengah terbuka dan rambut acak-acakan. Di meja dapur, sudah ada Raka duduk tenang sambil menyeruput kopi.“Selamat pagi, si pewaris kutukan,” sapanya santai tanpa menoleh.Rani mendengus. “Pagi juga, si penjaga cermin gagal.”Raka menahan tawa. “Kamu cepat belajar cara nyolot juga, ya.”“Efek stres,” balas Rani, duduk di kursi seberang. “Aku udah dua malam nggak tidur nyenyak. Sekarang tiap bayangan kayak ngajak ngobrol.”Raka mengangkat alis. “Termasuk bayangan aku?”“Yang itu malah ngeselin.”Raka tersenyum kecil — senyum yang jarang muncul, tapi cukup bikin Rani salah fokus.“Kalau kamu sempat ngelawak, berarti kamu masih baik-baik aja,” ujarnya ringan.“Baik-baik aja gimana? Aku udah hampir digondol arwah lokal, lho!”“Justru itu. Kalau kamu udah bisa ngeluh, berarti kamu belum mati.”“Ma
Pagi di Desa Arunika tidak pernah benar-benar terang.Kabut tipis selalu menggantung di antara pepohonan, menutupi langit yang mestinya biru.Burung-burung bersuara pelan, seperti takut membangunkan sesuatu yang sedang tidur.Rani membuka mata dengan kepala berat. Tubuhnya masih terasa dingin, seperti habis direndam air semalaman.Ia memandangi cermin di pojok ruangan yang kini tertutup kain lusuh. Tidak ada suara, tidak ada getaran. Tapi hawa dingin masih tinggal di udara, seolah cermin itu bernapas diam-diam.Suara ketukan pelan di pintu membuyarkan pikirannya.“Rani? Sudah bangun?”Itu suara Bu Lastri, pemilik kos yang sejak awal kelihatan terlalu santai menghadapi hal-hal aneh di desa ini.Rani cepat berdiri dan membuka pintu.Bu Lastri tersenyum hangat, membawa nampan berisi teh panas dan sepiring pisang goreng.“Pagi, Nak. Kamu pucat sekali. Semalaman nggak tidur, ya?”Rani berusaha tersenyum. “Sedikit... susah tidur, Bu.”“Ya ampun, kalau mau nyalain lampu malam-malam, nyalain
Malam itu, kabut turun lebih cepat dari biasanya. Langit belum sepenuhnya gelap, tapi udara sudah seperti diselimuti kapas basah. Angin membawa aroma tanah lembap dan daun kering, membuat bulu kuduk Rani meremang begitu saja. Di kamarnya, Rani duduk bersandar di tepi ranjang, mencoba menenangkan diri setelah kejadian tadi siang. Kalung batu hitam yang digantung di depan pintu kini sudah ia simpan di meja. Tapi entah kenapa, setiap kali matanya terarah ke benda itu, hawa di ruangan terasa berubah. “Untuk yang menatap cermin, pintu sudah terbuka,” gumamnya pelan, mengulang kalimat di kertas misterius itu. Ia mengusap wajah. “Kayak yang bikin pesan ini tuh sengaja pengen aku stres.” Rani mencoba mengalihkan perhatian dengan mengetik laporan di laptop. Tapi setiap beberapa detik, matanya tetap melirik ke arah cermin yang berdiri di sudut ruangan. Permukaannya terlihat biasa—sampai tiba-tiba muncul embun tipis di permukaannya. Padahal jendela tertutup rapat. “Jangan halu, Ran. Fokus
Pagi di Desa Arunika tak kalah aneh dari malamnya. Kabut tipis masih menggantung di antara pohon, dan udara pagi terasa seperti embun yang belum selesai menetes.Rani berdiri di depan cermin kamar kosnya sambil menyisir rambut. Tapi setiap kali matanya tak sengaja menatap pantulan itu terlalu lama, ada rasa tak nyaman yang menjalar. Bayangannya tampak sedikit… terlambat mengikuti gerakannya.Ia mendengus. “Kayaknya kurang tidur deh, makanya halu.”Tiba-tiba terdengar suara ketukan pelan di jendela.Tok. Tok. Tok.Rani menoleh spontan — dan mendapati seekor ayam berdiri di luar.“ASTAGA, AYAM?!” jeritnya. Ayam itu langsung kabur sambil berkotek.“Hebat, Ran. Bahkan unggas aja kabur dari kamu,” gumamnya kesal pada diri sendiri.Belum sempat ia menenangkan diri, pintu kamarnya diketuk dari luar.“Masuk aja kalau mau ngagetin sekalian!” katanya refleks. Tapi pintu benar-benar terbuka, menampakkan sosok Raka berdiri dengan ekspresi datar dan sepasang sandal lumpur.“Seriusan, kamu undang a
Kabut sore itu turun seperti selimut dingin yang menelan matahari. Langit berwarna kelabu pucat, dan udara lembap menusuk hingga ke tulang. Di ujung jalan berbatu, sebuah angkot berhenti dengan decit rem pelan.“Desa Arunika, ya?” tanya sopir sambil menoleh.Rani menatap ke luar jendela. Hanya hamparan sawah yang separuh tertutup kabut. Ia menelan ludah. “Iya, Pak. Di sini aja turunnya.”Begitu kakinya menapak tanah, udara terasa asing. Sunyi—sejenis sunyi yang bukan sekadar tak ada suara, tapi seolah sesuatu sedang mendengarkan dari balik kabut.Rani memeluk tas ranselnya erat. “Ya ampun, kok ngeri banget sih. Baru nyampe udah kayak film hantu lokal,” gumamnya pelan.Sopir itu tertawa kecil, tapi nadanya tak sepenuhnya santai. “Desa Arunika memang suka berkabut kalau sore, Neng. Jangan keluar malam, ya. Orang sini bilang, kalau kabutnya tebal, jangan nengok ke belakang.”Rani tertegun. “Hah? Kenapa?”Sopir itu hanya mengangkat bahu. “Katanya, nanti ada yang nengok balik.”Sebelum Ran







