Tatapan Stanley berubah dingin. Dia meletakkan pisau dan garpunya, lalu bersandar di kursi. Dia menatap Rafael lekat-lekat, dengan penuh penilaian dan sedikit amarah karena merasa tersinggung."Rafael, sejak kapan kamu jadi begitu punya rasa keadilan? Heh, kenapa kamu membelanya?" Stanley tertawa dingin dan berujar dengan suara rendah, "Seingatku, rasa jengkel dan penghinaan yang kamu tunjukkan kepadanya dulu juga nggak kalah besar dariku." Tatapan Stanley tertuju pada wajah Rafael. Dia tidak melewatkan satu pun perubahan halus dalam ekspresinya sambil lanjut mendesak, "Tapi sekarang? Kamu melindunginya dan menuntut rasa hormat untuknya? Kamu begitu membelanya benar-benar cuma karena hubungan bisnis kalian?" Rafael sedikit terkejut dengan pertanyaan Stanley. Ucapan Stanley langsung menimbulkan gejolak dalam hatinya. Dia memang masih ingat. Sebelumnya, Rafael mendengar Shanaya adalah orang yang menghalalkan segala cara demi menikahi orang kaya. Dia juga pernah setuju dengan pandanga
閱讀更多