Darren mengangkat alisnya, melirik adik perempuannya dengan tatapan penuh makna, tetapi dia tidak membantah. Dia menerima sarung tangan sekali pakai, lalu mulai mengupas kulit udang.Sepasang tangan Darren yang biasanya digunakan untuk membolak-balik berkas perkara dan dilambaikan ketika berdebat dengan penuh wibawa di ruang sidang itu, kini kelihatan cekatan ketika mengupas udang.Dalam waktu singkat, muncul beberapa ekor udang berbentuk utuh dan indah di hadapan. Setelah itu, tentu saja udang itu diletakkan di piring depan Shanaya.“Terima kasih, Pak Darren. Benar-benar sudah merepotkanmu. Aku bisa sendiri.” Shanaya merasa tidak enak hati. Wajahnya juga sudah memanas.Darren mengangkat sebuah panggilan. Dia pun meninggalkan tempat sejenak. Pada saat ini, Shanaya segera menatap Selina dan berkata dengan nada rendah, “Selin, kamu lagi ngapain hari ini?”Selina mendekati Shanaya, lalu berbisik dengan tersenyum, “Naya, kamu jangan merasa tertekan! Abangku itu gila kerja, hidupnya sangat
Read more