Darren mengakhiri percakapan, lalu berjalan kembali ke sisi Shanaya dengan natural. Dia menyadari ada yang aneh dengan ekspresi Shanaya. Dia pun membungkukkan sedikit tubuhnya, lalu bertanya dengan nada rendah, “Ada apa?”Shanaya segera menurunkan kelopak matanya, lalu menggeleng dengan perlahan. Dia tetap bersuara dengan tenang, “Nggak kenapa-napa.”Sementara itu, tatapan Darren telah mengikuti arah tatapan Shanaya tadi. Dia pun melihat kedua tamu tidak diundang di depan pintu sana. Devina juga sudah memperhatikan keberadaan mereka berdua, terutama Stanley yang terus menatap Shanaya lekat-lekat, membuat Devina spontan merangkul lengan Stanley dengan semakin erat lagi.Shanaya menyerahkan Snow di dalam pelukannya kembali kepada suster, lalu berkata dengan nada lembut, “Besok aku akan datang untuk menjemputnya. Sudah merepotkan kalian.”Setelah itu, Shanaya memalingkan tubuhnya ke sisi Darren. Suaranya tidak tergolong besar, tetapi jelas dan tegas. “Pak Darren, ayo kita pergi.”“Oke,”
Read more