Wulan tidak bisa mendengar. Atau lebih tepatnya, pendengarannya masih berfungsi, namun otaknya tidak bisa lagi memproses kata-kata. Setiap serabut sarafnya terbakar oleh sensasi yang terlalu banyak, terlalu pekat, dan terlalu brutal.Tentakel-tentakel di payudaranya yang tadi berhenti bergerak, kembali aktif. Mereka tidak lagi bergerak lembut, melainkan menggigit, mengisap dengan kekuatan vakum yang membuat kuncup-kuncupnya terasa seperti akan terlepas dari daging.Yang lain meliuk ke perutnya, menemukan pusar, menyelinap masuk sedikit demi sedikit, mengembang di dalam rongga yang seharusnya tidak bisa dimasuki."Siapa siluman itu?" tanya siluman lagi, suaranya kini lembut, hampir manja, seolah-olah bertanya kabar teman lama."Katakan, dan ini berhenti. Semua ini berhenti."Wulan ingin menjawab. Bukan karena ia akan mengkhianati, melainkan karena ia tidak lagi bisa membedakan antara keinginan untuk berhenti dan keinginan untuk terus merasakan.Mulutnya penuh, tenggorokannya tertekan, d
Magbasa pa