LOGINUdara di dalam kabin bus sleeper itu terasa dingin menusuk kulit, namun Wulan justru merasakan hawa panas yang berbeda merayap dari arah depan. Melalui celah tirai kabinnya yang sedikit terbuka, dia bisa merasakan sepasang mata dari balik kaca spion tengah—sang sopir yang sesekali melirik dengan tatapan lapar.Di samping pintu, kernet bus bersandar sambil memainkan ponsel, namun kepalanya condong ke arah lorong kabin dan sesekali melirik separuh tubuh Wulan yang terlihat menjorok ke koridor bus.Wulan meregangkan tubuh di atas kasur sempitnya. Jaket denim pendeknya tersingkap, memperlihatkan perut putih mulusnya yang berdenyut halus mengikuti irama napas. Ceruk pusarnya yang seksi mengintip di balik garis pinggang jeans rendah yang ketat.Dia tahu mereka menonton. Dia membiarkan satu kakinya tertekuk, membuat paha di balik jeans itu tercetak jelas, mengundang imajinasi liar bagi siapa pun yang melihatnya.Tiba-tiba pintu hidrolik terbuka dengan bunyi yang berdecit berat. Tak lama, der
Pulogebang jam sembilan malam itu ibarat lubang kakus yang meluap. Bau solar menyengat bercampur aroma keringat basi dan asap rokok murahan yang menggantung di udara lembap.Wulan berdiri di depan gerbang terminal, membiarkan ransel kecilnya menggantung malas di satu bahu. Dia teringat geraman rendah Mbah Broto tempo hari di apartemen."Bus malam itu sarang gairah paling busuk, Wulan. Para lelaki yang lelah, jauh dari istri, dan penuh tekanan. Hisap semua gairah mereka sebelum kita sampai di Jawa Timur."Wulan menarik napas panjang. Udara kotor terminal itu justru terasa seperti candu. Dia menyesuaikan letak tank top putihnya yang berbahan tipis. Belahan dadanya yang padat menyembul berani, ditekan oleh jaket denim pendek yang bahkan tidak sampai menutupi pinggangnya.Setiap kali dia bergerak, kulit perutnya yang putih mulus dan ceruk pusarnya yang seksi mengintip nakal di atas garis jeans rendahnya yang ketat.
Sprei sutra di bawah tubuh Wulan terasa seperti hamparan silet halus yang menggores kulitnya yang terlalu sensitif. Dia mengerang, mencoba menggerakkan lengannya yang terasa seberat timah.Setiap inci dagingnya berdenyut, mengirimkan sinyal nyeri yang tajam ke pangkal otaknya. Namun, saat dia menunduk untuk memeriksa kerusakan itu, dia tertegun.Kulitnya mulus. Tak ada memar keunguan, tak ada bekas cengkeraman kuku siluman, bahkan tak ada robekan di liang kewanitaannya yang tempo hari dihantam habis-habisan.Wulan bangkit perlahan, membiarkan selimut itu merosot jatuh ke lantai apartemen mewah milik Broto. Dia berdiri di depan cermin besar di sudut kamar, memandangi pantulan dirinya.Tubuhnya tampak lebih bercahaya, seolah-olah gairah hitam yang diserapnya telah menyatu sempurna dengan aliran darahnya. Dia melangkah keluar kamar tanpa sehelai benang pun, membiarkan udara dingin dari pendingin ruangan membelai leku
Lantai daging itu berdenyut lebih liar, seolah-olah seluruh ruangan sedang mengalami orgasme masal yang menjijikkan. Lendir ungu pekat menetes dari langit-langit, membasahi tubuh Wulan yang sudah tidak berbentuk lagi di bawah himpitan tiga monster babi hutan.Di luar sana, di balik lapisan dimensi daging ini, bulan purnama menggantung sempurna di langit kelam, memancarkan perak yang mematikan."Makan lagi, Jalang! Telan semuanya!"Siluman kurus itu menghantamkan miliknya yang berduri ke dalam mulut Wulan, memaksa kepala gadis itu membentur lantai yang kenyal. Di bawah, siluman bertaring patah masih sibuk mengoyak lubang belakang Wulan, sementara sang pemimpin raksasa meremas payudara Wulan hingga kuku-kukunya membenam ke dalam daging putih itu."Wulan... Kau dengar aku?"Sebuah suara berat, berwibawa, dan sangat dingin bergema di dalam tempurung kepala Wulan. Suara itu tidak datang dari telinga, melainkan langsung merasuki jiwanya.Batara Durja. Sang harimau penguasa kawah Halimun sed
Lantai daging di bawah tubuh Wulan bergetar lebih hebat, seolah-olah seluruh ruangan itu ikut bernapas mengikuti amarah nafsu dari siluman raksasa di depannya.Bau prengus babi hutan yang bercampur dengan aroma amis darah dan lendir pekat menyergap indra penciuman Wulan, membuatnya pening sekaligus terangsang secara tidak wajar.Siluman pemimpin itu berdiri tegak, bayangannya menelan tubuh Wulan yang masih gemetar di atas lantai yang licin."Lihat ini, Manusia. Dua saudaraku hanya memberikan pembuka yang hambar. Sekarang, kau akan merasakan apa artinya menjadi wadah bagi gairah yang sesungguhnya."Wulan menatap ke bawah, matanya yang sayu membelalak lebar. Di antara selangkangan siluman itu, sesuatu yang mengerikan berdenyut keluar. Batang gelap itu berurat, tebal, dan panjangnya benar-benar menyerupai lengan pria dewasa.Ujungnya yang tumpul dan lembab mengeluarkan tetesan cairan kental yang langsung mendesis saat menyentuh lantai daging."T-tidak mungkin... itu tidak akan muat..." bi
"Lepaskan dia sekarang," perintah siluman terbesar itu, suaranya menggetarkan dinding-dinding daging hingga memuntahkan lendir keunguan lebih banyak.Ikatan tali berbentuk usus yang melilit pergelangan tangan dan kaki Wulan tiba-tiba melonggar. Cairan licin menyertai pelepasan itu, membuat tubuh Wulan meluncur jatuh.Dia menghantam lantai yang kenyal dan berdenyut. Bau amis darah yang membusuk menusuk hidungnya saat wajahnya nyaris mencium permukaan lantai yang terasa hangat seperti kulit manusia yang demam."Ugh... akhirnya," Wulan merintih, mencoba bangkit dengan bertumpu pada sikunya yang gemetar."Jangan berpikir bisa lari, Manusia," siluman kedua yang bertaring patah merangkak mendekat, lidahnya yang panjang menjilat udara tepat di depan wajah Wulan."Lantai ini adalah bagian dari perut kami. Kau bergerak satu inci, kami akan langsung tahu."Wulan menyeka lendir dari pipinya,
Ban SUV hitam itu berhenti dengan sentakan kasar di bahu jalan yang berdebu. Hawa panas Depok langsung menyambar wajah Wulan saat pintu mobil terbuka, membawa aroma asap knalpot dan gorengan pinggir jalan yang menyengat. Di depannya, sebuah gang sempit menganga, menjadi
Dentuman musik jazz yang lembut dan aroma kopi panggang yang mahal menyelimuti meja mereka di sudut restoran. Di luar jendela, menara-menara kaca Jakarta saling berebut langit.Broto, dengan balutan blazer kasual di atas kaos hitamnya, tampak seperti pengusaha yang tengah menunggu rekan bisnisnya.
Cahaya matahari pagi menyusup paksa melalui celah gorden apartemen, menikam mata Wulan yang masih terasa berat. Setiap inci ototnya menjerit, memprotes gerakan sekecil apa pun."Nnghh.."Ia mengerang pelan saat mencoba duduk di tepi ranjang, merasakan sisa-sisa perlakuan Tagor semalam yang meningga
Lantai marmer lobi apartemen itu memantulkan cahaya lampu kristal yang dingin, sejuk oleh embusan penyejuk udara yang menyapu aroma parfum ruangan mahal.Wulan melangkah masuk, membiarkan tumit sepatunya mengetuk permukaan lantai dengan ir







