Mendengar itu, Kirana segera mendekat untuk melihat lebih jelas. “Kapan kamu terluka?”Sejak melangkah masuk ke rumah sakit, Clarin selalu menahan telapak tangannya menghadap ke dalam, tak ingin orang tuanya melihat bekas luka itu. Tak disangka, tetap saja ketahuan.Dengan nada ringan, dia berbohong, “Beberapa hari lalu. Mobilku lagi di bengkel buat perawatan, jadi aku naik motor listrik sewaan ke kantor. Di tengah jalan aku terjatuh. Neneknya Pak Carles tahu, langsung kirimin salep. Sekarang sudah mau sembuh.”“Sudah berapa kali Ibu bilang, kalau nyetir itu pelan-pelan, pelan-pelan!” Kirana menegur dengan nada campur aduk antara cemas dan kesal.Clarin buru-buru mengalihkan topik.“Oh iya, Ayah … Ayah panggil aku dan Pak Carles ke sini, memang ada hal yang mau Ayah sampaikan?”“Carles, mendekat sedikit.”Barry memberi isyarat pada Carles, lalu merogoh bawah bantal dan mengeluarkan sebuah buku harian kecil berkunci angka.Carles menekan bibirnya, melangkah mendekat dan berdiri di sampi
Read more