Langit di atas Tirtaloka memerah bahkan sebelum matahari berani muncul di cakrawala. Warna itu bukan warna pagi—melainkan nyala api yang berkedip di kejauhan. Dari balik perbukitan, lautan obor bergerak perlahan, berkelok seperti sungai cahaya yang menelan gelap. Debu terangkat dari tanah yang diguncang ribuan langkah. Getarannya menjalar sampai ke tulang, membuat dada terasa sempit sebelum satu pun senjata ditembakkan.Serangan besar akhirnya datang.Di balkon tinggi Istana Sangkala, Ratu Safira berdiri tanpa bergerak. Angin malam memainkan ujung jubahnya, tetapi wajahnya tetap beku—tanpa ragu, tanpa belas kasihan.“Jason sudah melewati batas,” katanya datar. “Ia membangun wilayah sendiri. Kilang minyak. Pabrik obat. Benteng.”Ia menoleh sedikit ke belakang. Panglima yang berdiri di sana menunduk dalam diam.“Kalau dibiarkan,” lanjutnya, “dia akan menjadi raja baru.”“Pasukan telah diberangkatkan, Yang Mulia,” jawab sang panglima. “Divisi pemecah benteng, artileri, dan unit pemburu e
Last Updated : 2026-02-18 Read more