Napas tertahan berdesir di antara penonton terbatas—para bangsawan tinggi, tetua medis, dan utusan kerajaan yang diberi izin menyaksikan duel terlarang ini. Tidak ada sorak-sorai. Tidak ada bisikan kagum. Hanya ada ketakutan yang merambat pelan, seperti hawa dingin merayapi tulang punggung.“Tidak mungkin…” “Itu korban Kutukan Roh Maut…” “Bahkan sepuluh tabib kerajaan bekerja bersama pun tak akan sanggup...”Suara-suara itu terputus satu per satu, seolah takut mengucapkannya terlalu keras akan mengundang kematian itu sendiri.Vardos Atmaja bergerak lebih dulu.Langkahnya tenang, nyaris santai, sepatu kulitnya beradu lembut dengan lantai batu. Ia berlutut di samping tubuh pasien, telapak tangannya bersinar kehijauan—warna aura medis yang pekat, gelap, dan sarat niat tersembunyi. Jari-jarinya menelusuri dada, leher, lalu dantian yang hancur.“Hmph.”Satu dengusan kecil keluar dari bibirnya, diikuti senyum tipis yang tak pernah menyentuh matanya.“Kerusakan jiwa total,” katanya datar,
Terakhir Diperbarui : 2026-01-10 Baca selengkapnya