Di paviliun megah milik Permaisuri Lola, suasana tampak tenang seperti biasanya. Aroma dupa memenuhi ruangan, sementara beberapa pelayan berdiri berjaga dengan kepala tertunduk tanpa berani mengeluarkan suara. Permaisuri Lola duduk di depan meja kayu cendana sambil menyeruput teh hangat. Meski wajahnya terlihat tenang, jemarinya terus mengetuk permukaan meja, pertanda bahwa pikirannya sedang dipenuhi kegelisahan. Sejak menerima kabar eksekusi Adipati Dirgantara, hatinya tidak pernah benar-benar tenang. Ia terus menunggu laporan dari orang-orang kepercayaannya. Tiba-tiba terdengar suara kepakan sayap dari arah jendela. Seekor burung pembawa pesan mendarat dengan mulus di ambang jendela paviliun. Salah seorang pelayan terkejut. "Yang Mulia, ada burung pengantar surat." Lola segera berdiri dari kursinya. "Buka jendelanya." "Baik, Yang Mulia." Pelayan itu membuka jendela lebar-lebar. Burung tersebut melompat masuk, lalu mengangkat salah satu kakinya yang terikat gulungan surat kecil
Última actualización : 2026-07-27 Leer más