Kanaya masih berdiri di tengah ruangan dengan tubuh gemetar. Tatapannya berpindah dari wajah Putra Mahkota Daniel ke Kaisar Noah dan Permaisuri Jenika, mencoba mencari celah penjelasan.“Aku tidak mengerti … pasti ada kesalahpahaman,” ucapnya lirih, namun tetap memaksakan diri terdengar tegas. “Yang Mulia, kau sendiri yang mengatakan akan melamarku … kau tidak mungkin—”“Diam.” Suara Daniel memotong tajam, membuat tubuh Kanaya tersentak. Tatapannya semakin dingin, seolah gadis di hadapannya adalah orang asing.Namun Kanaya menggeleng cepat. Ia melangkah maju satu langkah, nekat meski tekanan di ruangan itu begitu mencekik.“Tidak! Aku harus tahu!” katanya, suaranya mulai bergetar. “Apa kesalahanku sampai kalian memperlakukanku seperti ini?!”Permaisuri Jenika mendengus jijik. Ia menatap Kanaya dari ujung kepala hingga kaki, penuh hinaan.“Kau masih berani bertanya?” ucapnya sinis. “Setelah semua kebusukanmu terbongkar, kau masih berpura-pura tidak tahu?”Kanaya mengepalkan tangan. Air
続きを読む