“Anak haram ini ngapain di sini?” suara berat itu terdengar keras di taman itu, membuat semua orang terdiam.Tuan Bagas berdiri di jalan setapak taman, dengan tatapan tajam yang langsung tertuju pada Kanaya. Udara seolah menegang, dan langkah kecil gadis itu terhenti seketika.Nyonya Andini menoleh cepat, wajahnya berubah antara terkejut dan berharap.Ia segera berjalan mendekati ayahnya, suaranya bergetar saat bertanya, “Ayah.. apakah Ayah sudah menemukan putriku?” Tangannya mengepal di sisi tubuh, menahan cemas yang sejak lama ia pendam.Kanaya memberanikan diri melangkah maju, matanya berkaca-kaca. Dengan suara lirih ia memanggil, “Kakek ....”Namun belum sempat kata itu selesai, tatapan Tuan Bagas langsung berubah dingin. “Sekali lagi kau memanggilku kakek,” katanya rendah dan mengancam, “lidahmu akan kupotong.”Tubuh Kanaya membeku, napasnya tertahan di tenggorokan. Ia mundur satu langkah, jantungnya berdebar keras seolah ingin melompat keluar. Ia tidak berani menatap wajah pria
Última atualização : 2026-05-20 Ler mais