Keesokan harinya, suasana kamar masih terasa sunyi saat Rima berdiri di ambang pintu. Ia menatap Kanaya yang duduk di ranjang dengan wajah ragu. “Nona, mohon jangan keluar dari penginapan ini,” ucapnya hati-hati.“Itu pesan dari Yang Mulia Permaisuri,” lanjut Rima pelan. “Untuk sementara akan lebih baik Nona tetap di dalam.”Kanaya hanya menatap sekilas, tanpa benar-benar mendengarkan. Rima menunduk, lalu perlahan keluar dari kamar dengan perasaan tidak tenang.Begitu pintu tertutup, Kanaya langsung mendengus pelan. Ia menggerakkan tubuhnya, lalu perlahan berdiri dari ranjang. Meski masih lemah, kini ia sudah bisa berjalan tanpa terjatuh.“Cih, hanya pelayan rendahan,” gumamnya sinis. “Berani-beraninya mengaturku.”Ia melangkah perlahan menuju meja, mengambil sebuah kantong berisi koin emas. Tangannya menggenggam erat, seolah itu cukup untuk memberinya kendali kembali.“Aku harus bertemu Putra Mahkota Daniel,” lanjutnya pelan. “Dia pasti sudah mencariku.”Tanpa ragu, Kanaya berjalan m
Read more