Kehadiran Ziana sontak menarik seluruh perhatian Arhan. Tatapan lelaki itu langsung tertuju padanya, kaku dan tajam, seolah tengah menahan sesuatu yang tak sempat terucap. Ziana yang menyadari suasana tak biasa itu ikut kebingungan. Pandangannya berkeliling, mencoba mencari jawaban dari wajah-wajah di sekitarnya. Namun tak satu pun berani menatap balik. Para pekerja memilih menunduk, bahu mereka tegang, seakan sedang berdiri di bawah bayang-bayang amarah yang belum sepenuhnya reda. “Maaf, Pak Arhan… aku telat,” ucap Ziana ragu. Senyumnya terlihat polos, tanpa beban, seolah kekacauan yang barusan terjadi sama sekali tak ada hubungannya dengan dirinya. “Aku tadi belanja,” lanjutnya, sedikit tergesa. “Beli banyak stok rempah buat bikin obat herbal—” Arhan tahu betul obat apa yang dimaksud gadis itu. Dia berdeham pelan, menyingkirkan rasa kesal yang sejak tadi mengendap. Melihat Ziana berdiri di hadapannya dalam keadaan baik-baik saja, meski rambut dan ujung bajunya masih basah ole
Terakhir Diperbarui : 2025-12-17 Baca selengkapnya