Arhan sakit? Tidak mungkin, Ziana yang paling tahu. Arhan tidak terlihat pucat atau menahan sakit selama itu, yang jelas sebaliknya, Ziana yang sakit. Itu berarti Arhan sengaja bekerja di rumah hanya untuk Ziana. Diam-diam Ziana tersenyum, hatinya terasa hangat dan berbunga. Jadi, Arhan memang seperhatian itu padanya kan? "Ziana," tegur Wina yang menunggu respon Ziana sejak tadi, tapi gadis itu malah bengong. "Eh, ya? Mmm, maaf Bu Wina. Saya akan mengecek dan mengkonfirmasinya kalau Pak Arhan pulang nanti. Semoga saja bukan karena beliau sakit." Wina mengangguk, dia sedikit tenang tapi juga masih bingung karena sebelumnya Arhan tidak pernah begitu. Kantor adalah tempat utama dia menghabiskan waktunya, sementara rumah ibarat tempat kedua yang dia singgahi. Setelah menunggu beberapa waktu, masakan yang Ziana buat selesai. Gadis itu menyuguhkannya untuk Wina. Nasi lembek dengan sup hangat, Wina menyukainya. Dia suka makan dengan sesuatu yang lunak dan berkuah. "Silahkan, Bu. Kala
Read more