Ibu Sonya berkedip, menata emosinya dalam hitungan detik agar tidak menakutiku. "E-eh... ada Putri di sini," ucap Ibu Sonya, suaranya mendadak melunak drastis, berbanding terbalik dengan teriakan menggelegar beberapa detik lalu. Ia melangkah mendekatiku dan Angga. Aku segera meletakkan kotak bekal milikku, lalu berdiri dengan sopan untuk mencium punggung tangan Ibu Sonya dan Pak Wahyu bergantian. "Iya, Mah." "Mama kenapa? Kok... sepertinya tadi sedang marah sekali?" tanyaku dengan raut wajah polos yang jujur. Ibu Sonya memaksakan sebuah senyuman keibuan, mengusap bahuku lembut. "Enggak apa-apa, Sayang. Tidak ada apa-apa kok, cuma urusan kantor sedikit. Mama tidak marah sama kamu." Beliau melirik kotak bekal di meja. "Kamu lagi sarapan, ya?" Ucap Bu Sonya "Iya, Mah. Ini aku baru mau nawarin Mama sama Papa, tapi... makanannya sudah keburu habis. Maaf ya, Mah, Pah," ucapku merasa tidak enak. "Oh, tidak apa-apa, Sayang. Terima kasih tawaran kamu. Mama sama Papa tadi sud
Baca selengkapnya