Pagi itu rumah terasa terlalu sunyi, meski suara sendok dan piring beradu di meja makan terdengar jelas. Yanti duduk berhadapan dengan Herman, menatap wajah suaminya yang terlihat biasa saja, seolah hidup mereka baik-baik saja. Seolah tidak ada rahasia. Seolah tidak ada luka yang dipendam.Sejak kejadian di kafe itu, sejak tubuhnya hampir direnggut paksa oleh kelicikan Daniel, Yanti memilih diam. Ia menjalani hari-hari seperti biasa. Bangun pagi, menyiapkan sarapan, membersihkan rumah, tersenyum seperlunya. Semua ia lakukan dengan mekanis, bukan karena kuat, tapi karena lelah. Ia tahu tentang Risma. Ia tahu apa yang Herman lakukan di belakangnya. Tapi bertengkar terasa lebih melelahkan daripada berpura-pura.“Yan, minggu depan aku harus pergi ke luar kota,” ucap Herman sambil menyuap nasi, nadanya datar.Yanti tidak langsung menjawab. Tangannya berhenti bergerak. Ada jeda beberapa detik sebelum ia mengangkat wajahnya. “Keluar kota, Mas?”
Last Updated : 2026-01-19 Read more