Malam merambat masuk ke kamar itu perlahan, seperti sesuatu yang disengaja.Lampu temaram tidak cukup terang untuk memberi rasa aman, tapi cukup untuk memperlihatkan bayangan tubuh yang saling berhadapan.Yanti berdiri kaku di dekat ranjang tua itu.Udara terasa pengap.Setiap detik yang berlalu membuat dadanya semakin sesak.Rudi menutup pintu kamar dengan tenang.Terlalu tenang.“Kenapa kamu tegang sekali?” katanya, seolah-olah mereka hanya dua orang yang sedang bertemu tanpa beban.Padahal mereka berdua tahu—malam ini bukan soal pertemuan, tapi penyerahan.Yanti menelan ludah.Tangannya gemetar, tapi ia paksa suaranya tetap keluar.“Aku akan kasi apa yang kamu mau, tapi Setelah malam ini,” katanya, menatap lurus ke arah Rudi, “kamu berhenti. Kamu sudah dapat apa yang kamu mau. Aku gak mau kamu ganggu hidupku lagi. Suamiku. Orang-orang di sekitarku.”Rudi mendekat pelan.Langkahnya santai, tapi tatapannya tajam—seperti orang yang tahu lawannya tidak punya ruang untuk kabur.“Kamu lu
Last Updated : 2025-12-26 Read more