Renee mengingat kembali sikap Arvin terhadap Xavier.Memang tidak terlalu mungkin. Akhirnya, dia hanya bisa menyerah dan berpamitan pada Xavier. "Baiklah, terima kasih untuk susunya, Dokter Xavier. Aku pamit dulu.""Bu Renee, kamu benar-benar berniat bercerai dengan Arvin?"Sebelum dia pergi, Xavier bertanya lagi.Renee menatap teks di ponselnya, lalu mengangguk tanpa ragu. "Iya."Setelah itu, dia pergi tanpa menoleh lagi.Xavier duduk di sofa beberapa saat. Setelah menghabiskan kopi di cangkirnya, barulah dia mengangkat ponsel dan menelepon Arvin. "Bagaimana, Pak Arvin, sudah dengar semuanya, 'kan?"Di seberang telepon, Arvin terdiam, entah apa yang sedang dipikirkannya.Beberapa saat kemudian, dia baru membuka mulut, "Aku dengar."Xavier mendecakkan lidah dua kali, lalu kembali bersikap usil. "Benar-benar nggak kusangka. Putra sulung Keluarga Suryana yang terhormat ternyata sampai di titik akan diceraikan."Arvin terdiam."Pak Arvin, menurutku Bu Renee nggak sedang bercanda. Dia mema
Magbasa pa