Elara berdiri di tengah toko, napasnya belum sepenuhnya stabil. Ia tahu badai belum benar-benar lewat. Bukan badai hujan, melainkan badai yang kini berdiri beberapa langkah di depannya. Lucas, wajah pria itu tidak lagi menyisakan senyum tipis seperti tadi. Rahangnya mengeras. Tatapannya bukan hanya terluka, tapi juga tersinggung. Sofia yang sejak tadi membeku akhirnya sadar ia tidak seharusnya berada di sana. “Aku, aku cek bunga di belakang,” katanya cepat sebelum menghilang ke ruang penyimpanan, meninggalkan Elara dan Lucas berhadapan. Begitu pintu belakang tertutup, Lucas melangkah maju. “Kamu tidak akan mengatakan apa-apa?” tanyanya, suaranya masih tertahan, tapi jelas tegang. Elara menatapnya. “Apa yang ingin kamu dengar?” “Yang sebenarnya.” “Itu memang yang sebenarnya.” Lucas tertawa pendek. Bukan tawa bahagia, tawa yang terdengar pahit dan hampir tidak percaya. “Semalaman kamu bercinta dengannya?” Elara tidak menjawab karena apa yang dikatakan Lucas memang benar.
Read more