Damian menuruni lereng tajam dengan langkah cepat, nyaris tanpa suara meski tanah basah memaksa sepatu botnya tenggelam hingga pergelangan. Napasnya berat, bukan karena lelah, tetapi karena amarah yang terus menekan tulang rusuknya dari dalam.Selendang merah itu masih tergenggam di tangannya.Kain itu dingin, lembap, dan berbau asap. Elara berada di tempat itu, mungkin hanya beberapa jam sebelum seseorang menyeretnya pergi lagi atau lebih buruk lagi, membawanya sebagai umpan.Damian mengepalkan kain itu hingga kusut. “De Luca,” gumamnya, penuh racun. “Kalian cari mati!”Ia bergerak lagi, matanya liar memindai setiap detail hutan. Setiap retakan tanah, setiap jejak sepatu, setiap bekas patahan ranting adalah peta terkutuk yang harus ia baca dengan sempurna.Tiba-tiba, suara teriakan samar terdengar dari kejauhan. Suara anak buahnya.Damian langsung berlari. Ia menembus hutan seperti bayangan hitam, memotong semak berduri tanpa peduli goresan di wajahnya. Ketika ia tiba, dua anak buahn
آخر تحديث : 2025-12-12 اقرأ المزيد