Beranda / Mafia / Mantan Kakak Tiri / Bab 21 Jadi Hanya karena Tubuh?

Share

Bab 21 Jadi Hanya karena Tubuh?

Penulis: Silentia
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-08 23:16:14

Elara tidak bisa menatap Damian lebih lama. Tubuhnya masih terasa gemetar, bukan hanya karena apa yang terjadi semalam, tetapi karena kenyataan bahwa dirinya membiarkan itu terjadi. Ia menarik selimut sampai ke dada, berusaha menjaga jarak dari pria yang saat ini sedang menatapnya seperti sesuatu yang bisa menghilang kapan saja.

Damian duduk di sisi ranjang, satu siku bersandar pada lutut, kepalanya sedikit menunduk. Rambutnya acak-acakan, lehernya masih tegang. Pria itu tampak seperti seseoran
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Mantan Kakak Tiri   Bab 98 Stabil Saja Tidak Cukup

    Lucas duduk sendirian di dalam mobilnya yang terparkir dua blok dari toko bunga Elara. Mesin sudah mati sejak lama, tapi ia belum juga turun atau pergi. Tangannya masih berada di atas kemudi, jemarinya mengetuk pelan tanpa sadar.Kata-kata Sofia tadi siang yang sempat ia dengar terus terngiang di kepalanya, meski ia pura-pura tidak mendengarnya.Pilih Lucas kalau ingin hidup normal.Normal, Lucas tersenyum miring. Ia tidak pernah hidup normal. Hanya saja, ia lebih piawai menyembunyikannya dibanding pria lain yang kini menjadi bayangannya.Damian. Nama itu seperti duri kecil yang tak terlihat, tapi selalu terasa bagi Lucas. Ia menyalakan ponselnya. Beberapa notifikasi bisnis menunggu. Laporan distribusi, pembelian lahan, dan satu pesan dari tangan kanan keluarganya yang menanyakan keputusan mengenai proyek hotel baru di pinggiran kota.Lucas menatap layar beberapa detik sebelum membalas singkat.Percepat. Aku ingin semuanya selesai sebelum akhir kuartal.Ia tahu kabar tentang ekspansi

  • Mantan Kakak Tiri   Bab 97 Dia Masih Punya Tempat di Kepalamu

    Pagi di Firenze datang dengan cahaya lembut yang menyusup melalui tirai tipis toko bunga. Jalanan belum seramai biasanya. Hanya suara langkah beberapa pejalan kaki dan deru pelan sepeda yang melintas.Sofia mendorong pintu toko seperti biasa. Lonceng kecil berdenting ringan.“Aku datang,” kalimatnya terhenti.Elara sudah berdiri di balik meja kasir, padahal jam masih terlalu pagi untuknya membuka toko. Rambutnya terurai berantakan, matanya sembap, dan ada bayangan lelah yang tidak bisa ditutupi bahkan dengan senyum tipis yang ia coba paksakan.“Kamu tidak tidur,” kata Sofia tanpa basa-basi.Elara berusaha terdengar santai. “Aku tidur.”Sofia mendengus pelan. “Berapa jam?”Elara tidak menjawab.Sofia meletakkan tasnya, lalu berjalan mendekat. Ia sudah mengenal Elara cukup lama untuk tahu kapan gadis itu mencoba menyembunyikan sesuatu. “Apa dia datang lagi tadi malam?”Pertanyaan itu tidak menyebut nama tapi Elara sudah paham maksud dari pertanyaan itu. “Elara menarik napas. “Keduanya.

  • Mantan Kakak Tiri   Bab 96 Aku Tidak Ingin Menjadi Pilihan Kedua

    Udara malam di Firenze terasa lebih dingin ketika mereka berjalan kembali menuju toko bunga kecil itu. Langkah mereka berdampingan, tapi tidak sepenuhnya selaras. Suara sepatu menyentuh batu jalan terdengar pelan, bercampur dengan gema tawa dari kafe-kafe yang mulai tutup.Lucas tidak berbicara selama beberapa menit pertama. Elara tahu itu bukan karena dia tidak punya sesuatu untuk dikatakan. Justru sebaliknya, mungkin banyak kata yang ingin Lucas katakan tapi dia memilih diam.Lampu-lampu toko sudah padam ketika mereka tiba. Tirai tipis di jendela bergerak pelan tertiup angin. Elara berdiri di depan pintu, mengeluarkan kunci dari tasnya. “Terima kasih untuk makan malamnya,” ucapnya pelan tanpa menoleh.Lucas mengangguk. “Sama-sama.” Nada suaranya datar, tidak dingin, tapi juga tidak hangat seperti biasanya.Elara memasukkan kunci ke lubang, memutar perlahan, lalu berhenti. Ia menoleh. “Kamu marah?”Lucas tersenyum tipis, senyum yang tidak benar-benar sampai ke mata. “Tidak.”“Kamu te

  • Mantan Kakak Tiri   Bab 95 Aku Tidak Suka Kita Seperti Ini

    Toko bunga kecil Elara sudah tutup sejak satu jam lalu. Kelopak mawar yang tidak terjual telah dirapikan, ember-ember air diganti, dan tirai tipis di jendela ditarik setengah.Elara berdiri sendirian di tengah ruangan yang kini lebih sunyi daripada biasanya. Ada sisa wangi bunga yang bercampur dengan aroma kayu dan sedikit jejak kopi pagi tadi. Tangannya sedang menyusun catatan pesanan, tapi pikirannya tidak benar-benar berada di sana.Damian datang pagi tadi dengan sarapan dan pergi tanpa memaksa.Lucas belum datang sejak terakhir waktu itu dan ia merasa seperti berada di antara dua garis tak terlihat yang sama-sama menuntut.Lonceng kecil di pintu berdenting pelan. Elara menoleh. Baru ia pikirkan dan sekarang Lucas berdiri di ambang pintu dengan jaket gelap dan ekspresi ragu yang jarang terlihat darinya, tidak ada senyum cerah seperti biasanya dan tidak ada nada santai.“Hai,” ucapnya pelan.“Hai,” jawab Elara.Lucas melangkah masuk, menutup pintu perlahan di belakangnya. Ia meliha

  • Mantan Kakak Tiri   Bab 94 Aku Akan Pergi Sekarang

    Cahaya matahari kini sudah memenuhi hampir seluruh ruangan, menari di atas kelopak mawar dan membiaskan warna lembut di dinding kayu. Namun suasana di dalam masih terasa rapuh seperti kaca tipis yang bisa retak hanya karena satu getaran kecil.Sofia masih duduk di hadapan Elara. Ia tahu, beberapa luka tidak bisa disembuhkan dengan nasihat. Kadang hanya butuh seseorang yang tetap tinggal. “Elara,” ucapnya pelan, “kamu tidak harus memutuskan semuanya hari ini. Kamu hanya perlu memastikan satu hal.”Elara mengangkat wajahnya yang masih pucat.“Apa pun yang kamu pilih nanti, itu harus karena kamu ingin. Bukan karena takut kehilangan. Bukan karena takut disakiti.”Elara menarik napas panjang. Nafas itu terasa berat, tapi lebih stabil dibanding beberapa menit lalu. “Aku lelah,” gumamnya.“Aku tahu.”“Aku lelah merasa seperti berada di medan perang.”Sofia tersenyum tipis. “Maka berhentilah berdiri di tengah pertempuran.”Elara menatapnya, tidak sepenuhnya mengerti.“Kamu bukan wilayah yang

  • Mantan Kakak Tiri   Bab 93 Masalahnya Hatiku Merasa Tak Nyaman

    Cahaya matahari menelusup melalui celah-celah jendela kaca toko bunga Elara, jatuh lembut di lantai kayu dan rak-rak penuh warna.Aroma bunga segar sudah mulai memenuhi udara. Mawar, lavender, anyelir, semuanya masih basah oleh embun pagi. Namun ada satu hal yang tidak biasa hari ini.Toko belum benar-benar hidup. Pintu depan masih tertutup setengah. Tirai belum sepenuhnya dibuka dan tidak ada musik lembut yang biasanya diputar Elara setiap pagi.Ketika lonceng kecil di atas pintu berdenting pelan, seorang wanita masuk dengan langkah ringan namun pasti.Sofia datang seperti biasa, tepat waktu dan penuh ceria. Namun langkahnya langsung terhenti begitu matanya menangkap pemandangan di dalam.“Elara?”Suara itu pelan, tapi cukup untuk memecah keheningan.Sofia melihat Elara tidur sambil duduk dan bersandar pada dinding dekat meja kasir. Dia tertidur tidak seperti seseorang yang beristirahat tapi seperti seseorang yang kelelahan, kehilangan tenaga untuk bangkit.Sofia mengerutkan kening.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status