Beberapa hari setelah itu, Rafa mulai merasakan sesuatu yang berbeda lagi—bukan kegelisahan seperti dulu, tapi semacam ruang yang lebih luas di dalam dirinya. Seperti ada jarak antara dirinya dan segala hal yang terjadi. Bukan jarak yang membuatnya jauh. Tapi jarak yang membuatnya bisa melihat dengan lebih jelas. — Suatu pagi di sekolah, Rafa duduk di kelas sambil menunggu guru datang. Teman-temannya ribut seperti biasa. Ada yang bercanda, ada yang mengeluh soal tugas, ada yang sibuk sendiri. Rafa memperhatikan semuanya dengan tenang. Dulu, mungkin ia akan langsung terseret ke satu percakapan, atau sibuk memikirkan siapa yang terlihat tidak baik-baik saja. Sekarang, ia hanya melihat. Dan memilih. Ia ikut tertawa saat ada yang lucu. Ia diam saat tidak ingin bicara. Ia hadir, tapi tidak terbawa. — “Rafa, kamu kenapa jadi kalem banget sih?” tanya Dika tiba-tiba. Rafa menoleh, tersenyum kecil. “Dari dulu juga kalem,” jawabnya santai. “Enggak juga,” sahut Dika. “Dulu kam
Baca selengkapnya