Beberapa minggu berlalu, dan hidup tidak kembali seperti sebelum semua ini terjadi. Ia berubah bentuk—lebih pelan, lebih sadar, seperti rumah itu sekarang punya denyut sendiri. Di kalender dapur, Anggi menandai tanggal kecil dengan pulpen biru. “Besok sidang mediasi pertama,” katanya pelan pada Rendra malam itu. Rendra mengangguk. “Mira sudah siap?” “Siap atau tidak, ini tetap harus dilewati.” Rafa yang sedang menggambar di lantai menoleh. “Mediasi itu apa?” “Orang dewasa duduk bareng buat cari jalan tengah tanpa saling teriak,” jawab Rendra. Rafa mengerutkan dahi. “Jadi… rapat tapi pakai emosi?” Anggi tertawa kecil. “Kurang lebih.” Keesokan harinya, Dito tidak masuk sekolah. Ia ikut ibunya ke kantor layanan keluarga. Sore itu, Mira menelepon. “Semuanya tegang, tapi konselornya bantu banget,” katanya. “Dito sempat gemetar lihat ayahnya masuk ruangan. Tapi dia berani bilang, ‘Aku nggak mau dimarahi lagi.’” Anggi menutup mata, napasnya berat oleh bangga dan sedih sekaligus
Read more