Beberapa minggu berlalu dengan langkah yang tidak tergesa, seolah waktu sendiri sepakat memberi mereka ruang bernapas lebih panjang. Namun seperti biasa, justru ketika hidup terasa stabil, sesuatu yang kecil—nyaris tak terlihat—mulai menggeser keseimbangan itu. Pagi itu, Anggi menyadari Rafa lebih banyak diam dari biasanya. Ia tetap sarapan, tetap bersiap sekolah, tapi gerakannya seperti orang yang sedang berjalan di dalam pikirannya sendiri. “Presentasi susulan?” tanya Anggi hati-hati. Rafa menggeleng. “Bukan.” “Teman?” “Bukan juga.” Nada itu bukan penolakan, tapi penundaan. Anggi tidak memaksa. Ia hanya berkata, “Kalau mau cerita nanti, aku ada.” Rafa mengangguk kecil. Sore harinya, Rafa masuk rumah tanpa menyapa. Ia langsung ke kamar. Pintu tidak dibanting, tapi ditutup pelan—dan justru itu yang membuat Anggi tahu ada sesuatu yang berat. Beberapa menit kemudian, Anggi mengetuk pelan. “Masuk,” suara Rafa terdengar serak. Ia duduk di tepi ranjang. Rafa memegang ponselnya e
Última actualización : 2026-01-31 Leer más