Beberapa bulan berlalu, dan tanpa mereka sadari, rumah itu mulai punya “musim”-nya sendiri. Ada hari-hari ramai, penuh suara sandal di teras, gelas minum yang berpindah-pindah, dan tawa yang datang seperti hujan sore—tiba-tiba, deras, lalu reda dengan sendirinya. Ada juga hari-hari sunyi, ketika hanya suara sendok menyentuh piring yang terdengar terlalu jelas. Anggi mulai menyukai keduanya. Dulu, ia takut sunyi berarti sepi. Sekarang ia tahu, sunyi kadang hanya tanda bahwa semua orang sedang baik-baik saja di tempatnya masing-masing. Suatu sore, Rafa pulang lebih lambat dari biasanya. Langkahnya tidak secepat biasanya. Anggi yang sedang menyiram tanaman menoleh. “Hari panjang?” Rafa mengangguk, lalu duduk di anak tangga teras tanpa membuka sepatu. “Ada yang nulis di Sudut Napas hari ini,” katanya pelan. “Tulisannya pendek banget.” “Apa?” Rafa menelan ludah. “‘Aku pengin menghilang aja.’” Air dari selang kecil masih mengalir, membasahi tanah terlalu lama di satu titik. Angg
Read more