Pagi berikutnya datang tanpa upacara. Tidak ada peristiwa besar, tidak ada pengumuman dari langit. Hanya cahaya yang merayap pelan di sela gorden, seperti tangan yang tahu batas. Anggi terbangun lebih dulu. Untuk beberapa detik, ia diam, mendengarkan. Dulu, keheningan pagi sering membuatnya cemas—seolah sunyi adalah ruang kosong yang harus segera diisi. Kini ia tahu, sunyi juga bisa menjadi tempat bernaung. Ia bangkit perlahan, tidak ingin mengusik Rendra. Di meja dekat jendela, buku catatan yang semalam ia tutup masih tergeletak. Tangannya sempat menyentuh sampulnya, lalu berhenti. Tidak semua pagi meminta tulisan. Beberapa hanya meminta kehadiran utuh. Di dapur, ia menyalakan kompor. Suara air mendidih, aroma kopi, potongan roti yang melompat di pemanggang—ritme kecil yang tak pernah masuk cerita siapa pun, tapi justru membangun hari. Saat ia mengiris buah, ia menyadari sesuatu: dulu ia sering merasa hidup yang “biasa” adalah jeda dari hidup yang “sesungguhnya”. Sekarang justru s
Última actualización : 2026-01-25 Leer más