Pagi datang tanpa pengumuman. Tidak ada hujan, tidak ada langit menggantung rendah. Hanya cahaya yang masuk pelan melalui celah gorden, menempel di dinding kamar seperti tangan yang ragu mengetuk. Anggi terbangun lebih awal dari biasanya. Ia tidak langsung bangun, hanya berbaring, merasakan napasnya sendiri—tenang, teratur. Beberapa bulan terakhir, pagi sering terasa seperti ini. Tidak ringan, tapi juga tidak berat. Seperti berdiri di tanah yang sudah dikenalnya, meski masih ada batu kecil di bawah telapak kaki. Ia bangun, menyiapkan sarapan, membangunkan Rafa. Rutinitas berjalan tanpa perlu dipikirkan. Namun ada satu hal yang baru: Anggi tidak lagi merasa sedang “menjalani” hidupnya. Ia hidup di dalamnya. Di dapur, Rendra membaca pesan di ponselnya. “Proyeknya jadi,” katanya sambil tersenyum. “Mulai bulan depan, tapi harus sering ke luar kota.” Anggi mengangguk. Dulu, kabar seperti itu mungkin akan memicu kecemasan—takut kehilangan ritme, takut ditinggal. Sekarang, ia hanya berta
Última actualización : 2026-01-15 Leer más