Saat Rafa duduk di meja, ia menatap ibunya sambil mengunyah. “Bu, nanti sore aku latihan gambar, ya.” Anggi mengangguk. “Boleh. Jangan lupa istirahat.” Rafa tersenyum, mengangguk serius, seperti orang dewasa kecil yang paham batas. Pemandangan itu selalu membuat Anggi merasa waktu berjalan terlalu cepat dan terlalu lambat sekaligus. Setelah mengantar Rafa ke sekolah, Anggi menuju kantor dengan langkah mantap. Ada rapat besar hari itu—presentasi lanjutan dari proyek yang sempat membawanya ke Bandung. Ia tahu ini penting, bukan hanya bagi kariernya, tapi bagi kepercayaan yang ia bangun pada dirinya sendiri. Di ruang rapat, Anggi berdiri di depan layar, memaparkan ide dengan suara yang tenang. Ia tidak berusaha terdengar sempurna. Ia jujur pada data, jujur pada batasan, dan jelas pada solusi. Saat presentasi selesai, ruangan hening sejenak, lalu kepala-kepala mengangguk. “Bagus,” kata atasannya. “Kita lanjutkan.” Anggi duduk kembali, jantungnya berdetak cepat, tapi ada senyum kecil
Last Updated : 2026-01-01 Read more