Bab 124 Dari balik batang pohon kamboja yang besar dan rindang, Luis berdiri mematung. Jemari kekarnya meremas kuat sebuah dompet kain kecil bergambar kartun milik Aldo yang tertinggal di jok belakang mobilnya. Uang recehan di dalamnya berdenting pelan, menjadi satu-satunya saksi bisu detak jantung Luis yang berpacu liar.Niat awalnya hanya memutar balik mobil untuk mengembalikan dompet itu. Namun, instingnya menuntun kendaraan mewahnya mengikuti rombongan ambulans hingga sampai ke kompleks pemakaman umum ini. Dan sekarang, kenyataan menghantam dada Luis bagai hantaman badai.Di depan makam yang masih basah bertabur bunga mawar, Celina tengah berlutut. Matanya yang sembab meneteskan air mata duka, memeluk erat tubuh mungil Aldo yang terisak pelan."Mommy," bisik Aldo parau di sela tangisnya. "Nenek Lela sudah di surga, ya?"Celina mengusap lembut kepala putranya, membenamkan wajah anak itu di dada hangatnya. "Iya, Nak. Nenek sudah tenang. Aldo harus jadi anak pendoa buat Nenek, ya?"
Read more