Bab 72 Pintu ruangan kerja Luis terbuka perlahan. Luis baru saja melangkah masuk ketika suara sepatu hak tinggi berhenti tepat di belakang meja kerjanya.Riana Dewi berdiri tegak, kedua tangannya bertumpu di atas meja. Tatapannya dingin, menusuk, seolah sudah menunggu sejak lama.“Kamu dari mana, Luis?” Suara itu tegas, datar, tapi penuh tekanan.Langkah Luis terhenti. Seketika nyalinya menciut. Ia menutup pintu pelan, menelan ludah sebelum berbalik menghadap ibunya.“Mommy," panggilnya, nada suaranya tak sekuat biasanya.Riana Dewi menyilangkan tangan di dada. Sorot matanya menyapu wajah putranya, mencari celah, membaca kebohongan yang sering dilakukan putranya. “Kamu meninggalkan Sofia lagi,” lanjutnya dingin. “Dan kamu menghilang tanpa kabar. Bagus sekali Luis." Riana menepuk tangan. Ia terkekeh kecil dan tersenyum sinis. "Bertemu dengannya? Melepas rindu? Apa sih, keunggulan wanita itu? Dia miskin dan bukan selevel kita. Tak pantas dengan kamu, Luis!" "Iya aku tahu. Tapi dia g
Huling Na-update : 2026-01-13 Magbasa pa