Reihan tiba-tiba menghentikan pergerakannya. Ia mematung di atas tubuh Alya, menatap lekat manik mata istrinya yang kini terlihat hampa. Suaranya yang tadi menggelegar kini luruh, pecah menjadi bisikan parau yang sarat akan keputusasaan."Sekarang katakan padaku..." desis Reihan, napasnya yang panas memburu di permukaan kulit Alya. "Apa kamu masih mencintaiku, Alya?"Alya tak berkedip. Ia hanya menatap langit-langit kamar yang temaram, membiarkan jiwanya terbang jauh, meninggalkan raga yang tengah dikuasai suaminya.Ruangan itu mendadak terasa dingin, kontras dengan detak jantung Reihan yang berpacu liar."Alya, jawab aku! Apa kamu mencintaiku?" tanya Reihan lagi, sambil mengguncang bahu Alya pelan, menuntut sebuah kepastian. Namun, yang ia dapatkan hanyalah keheningan yang mencekam."Kenapa diam?!" suara Reihan meninggi lagi, kali ini bukan karena murka, melainkan karena rasa sakit yang mengiris hatinya. "Dulu kau yang selalu bertanya seperti itu padaku, kan? Kau yang haus akan kata
Baca selengkapnya