Reihan memajukan wajahnya, berniat memberikan kecupan di bibir Alya sebagai salam perpisahan. Namun sebelum itu terjadi, Alya dengan cepat memalingkan wajahnya. Gerakan itu halus, tapi tegas.Reihan terhenti sejenak. Lalu, alih-alih tersinggung, ia justru tersenyum tipis, tangannya terangkat, lalu dengan santai mengusap pucuk kepala Alya, merapikan anak rambut yang berantakan."Baik-baik di rumah," ucap Reihan ringan. "Jika terjadi sesuatu, segera hubungi aku. Kamu masih ingat nomor ponselku, kan?"Alya tidak menjawab. Ia hanya mendengus pelan, lalu menepis tangan Reihan dari kepalanya dengan gerakan cepat."Nggak usah sok perhatian." ucap Alya ketus."Udah, sana buruan pergi!" ucap Alya lagi, berusaha menjaga nada bicaranya agar tetap datar.Reihan terkekeh kecil, suara tawa rendahnya terdengar begitu santai di telinga Alya."Galak banget," sahut Reihan pelan.“Jangan galak-galak,” lanjut Reihan, nada suaranya berubah menggoda. “Nanti kamu kangen, lho… ujung-ujungnya aku juga yang re
Mehr lesen