Di dalam kamar, Alya terbaring meringkuk di atas ranjang yang luas, menatap kosong ke arah dinding.Dadanya terasa sesak, seolah ada beban berat yang menghimpit pernapasannya, namun ia menahan diri untuk tidak menumpahkan air mata.Ia ingin menunggu, saat Reihan kembali nanti, apakah pria itu akan berterus terang tentang percakapan intimnya bersama Karin di balkon tadi, atau seperti biasa, ia akan memilih diam, membiarkan semuanya menggantung tanpa jawaban?Tak lama kemudian, suara derit pintu terdengar pelan. Reihan masuk, langkah kakinya terdengar lelah. Tanpa banyak bicara, ia langsung membuka satu per satu kancing kemejanya, menyampirkannya begitu saja di atas sofa hingga ia kini bertelanjang dada.Namun, saat ia merangkak naik ke atas ranjang dan mencoba menyentuh bahu Alya, tubuh istrinya itu menegang."Kenapa belum tidur?" tanya Reihan lembut.Tanpa suara, Alya mendadak bangkit. Ia menarik bantal dan selimutnya dengan gerakan cepat, lalu berjalan menuju sofa tanpa menatap Reiha
Mehr lesen