Alya yang menyadari perubahan nada suara suaminya seketika tersadar. Membuat ia segera melepaskan cekalannya pada lengan Reihan.Ia mencoba mengatur napas yang mendadak tidak beraturan, lalu berjalan pelan menuju sofa di sudut kamar, berniat untuk duduk di sana dan melanjutkan aksi perang dingin mereka yang sempat terinterupsi oleh padamnya listrik.Namun, belum sempat ia menjauh, Reihan bergerak lebih cepat. Dengan satu gerakan tangkas, lengan kokoh pria itu merengkuh pinggang ramping Alya, dan mengangkatnya dengan mudah, lalu membawanya menuju ranjang."Turunkan aku, Mas!" protes Alya, kaki kecilnya menendang udara dengan gerakan pelan.Reihan sama sekali tidak menjawab. Ia membaringkan tubuh Alya di atas ranjang, lalu segera mengungkungnya, mengunci pergerakan Alya dengan kedua lengan kuat di sisi tubuhnya."Mau ke mana? Katanya tadi takut," bisik Reihan dengan suara rendah yang bergetar di telinga Alya."Aku... aku tidak pernah bilang begitu," sanggah Alya, mencoba memalingkan waj
Mehr lesen