Aku menatap lembar hasil pemeriksaan medis itu tanpa benar-benar melihat isinya.Mataku bergerak mengikuti tulisan-tulisan kecil di kertas, istilah medis yang asing, angka-angka, batang rumah sakit, tanda tangan dokter—semuanya ada di sana, jelas, nyata, dan tidak mungkin dipalsSuara taman di sekitar kami terasa jauh, seperti berasal dari dunia lain.Aku mengangkat pandangan ke arah Nara. Dia tidak melihatnya. Pandangannya lurus ke depan, ke permukaan danau yang berkilat diterpa cahaya sakit. Wajahnya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja menjatuhkan bom ke tengah percakapan.“Waktu itu…” suaranya pelan sekali, nyaris seperti berbisik pada dirinya sendiri, “aku pikir aku mungkin tidak akan hidup cukup lama untuk memperbaiki semuanya.”Kalimat itu membuat seluruh tubuhku menegangkan.Aku aku“Apa maksudmu?” tanyaku.Pertanyaan itu keluar begitu cepat, lebih keras dari yang kuinginkan. Tapi aku tidak peduli. Ada sesuatu dalam nadanya tadi yang membuat darahku seperti b
Baca selengkapnya