Ada anggapan aneh bahwa setelah sebuah akhir, segalanya akan berhenti sejenak. Seolah dunia memberi jeda, memberi waktu untuk menghela napas, memberi ruang untuk mencerna. Nyatanya, hidup tidak pernah benar-benar berhenti. Ia hanya berganti irama.Aku menyadari itu pada pagi pertama setelah aku merasa “pulang”.Tidak ada lonceng.Tidak ada perasaan selesai.Hanya matahari yang tetap terbit dengan cara yang sama, dan tubuhku yang tetap harus bangun, mandi, memilih baju, dan menghadapi hari.Namun ada satu perbedaan kecil yang terasa besar: aku tidak lagi bangun dengan pertanyaan, aku harus jadi siapa hari ini?Aku hanya bangun sebagai diriku.Aku berangkat kerja sendirian pagi itu. Adrian ada jadwal lebih pagi, dan kami sepakat tidak perlu menunggu satu sama lain. Kesepakatan kecil, tapi penuh makna. Dulu, perpisahan pagi sekecil apa pun bisa memicu kecemasan—takut jarak berarti renggang. Sekarang, jarak hanyalah jarak.Di kereta, aku berdiri di dekat pintu. Wajah-wajah asing mengelili
Last Updated : 2026-02-03 Read more